Minggu, 01 September 2019

Memelihara Mitra Investor Franchise Agar Tidak Jadi Kompetitor


Ada pertanyaan klasik: Pernah saya pekerjakan karyawan, saya didik dari awal belum tahu apa apa sampai naik karirnya, lalu beberapa tahun kemudian tahu tahu dia pamit mundur keluar dari perusahaan dan diluar bikin usaha sendiri yang akhirnya jadi saingan kuat usaha saya. Apalagi kalau saya sudah bikin franchise, jangan sampai toko franchise saya nanti ownernya ajak karyawan pintar saya yang tadi dan bikin toko lain yang usahanya sama dan jadi kompetitor usaha franchise saya. Kenapa mereka meninggalkan saya?

Ini pertanyaan bagus. Tapi lebih bagus lagi bagaimana agar jawabannya positif, maka pertanyaannya dibuat positif juga? Bagaimana antisipasinya  agar karyawan bagus dan mitra franchisee bertahan kerjasama dengan saya? Sebenarnya itu hal yang alami dalam bisnis. Bisnis apapun , brand yang ke 2, ke 3, dst atau kita sebut sebagai follower biasanya lahir kebanyakan dari bisnis yang pertama/ pionir. Belajar dan ingin mendapatkan yang lebih baik lagi untuk masa depan adalah hal yang fitrah bagi manusia. 

Dalam Islam kita memang harus mengajarkan walaupun hanya 1 ayat. Atau menyebarkan ilmu walaupun sedikit. Dalam pandangan saya ilmu bukan hanya ilmu agama saja tapi juga ilmu ilmu terapan lain. Sepertinya kita harus legowo saja dan mungkin malah bersyukur karena ilmu yang kita berikan bisa bermanfaat luas bagi ybs. Jika dalam bisnis, mungkin secara perjanjian bisa saja kita buat "pasal jaga jaga", tapi secara hukum tidak akan  mudah mengikat kejadian kasus follower jadi kompetitor itu supaya tidak akan terjadi. Tapi bisa saja mungkin kita bisa menuntut pelakunya secara perdata jika kita merasa hal itu terjadi dan dianggap melanggar hak cipta. Tapi secara pemikiran umum masyarakat bisnis juga pasti merasa ini terlalu berlebihan karena tidak mungkin kita minta perusahaan bapak adalah satu satunya franchise bidang usaha toko ritel A  yang ada di Indonesia tanpa boleh ada franchise Toko Ritel sejenis produk toko/ outlet A lainnya di masa depan. 

Misal nanti kita punya mitra investor franchisee yang sudah ambil franchise toko ritel A selama 5 tahun. Tapi ternyata  di 2 tahun, dia merasa bisnis ini bagus dan merasa sudah bisa melanjutkan bisnis sejenis  tanpa support dari kantor pusat brand A. Misal dia berpikir supply produk bisa dia dapat dari grosir lain atau ada dari pemasok langsung yang bisa diusahakan. Dan operasional bisa dia tangani sendiri atau dia buat team intern sendiri. Lalu dia putuskan lepas dari kantor pusat A, bikin Brand sendiri untuk produk yang sejenis dengan produk brand A. Dalam banyak kasus di bisnis franchise itu sering sekali terjadi dan kantor pusat franchise nyatanya tidak bisa lakukan tuntutan apapun kepada mitra franchisee kecuali yang sudah tercantum di perjanjian franchise, sbb:

Kita bisa jatuhkan DENDA, misalnya ( bisa kita masukan di perjanjian ):
1. Bagi PIHAK KEDUA sebagai franchisee yang memutuskan kontrak perjanjian kerjasama franchise secara sepihak sebelum masa kontrak 5 tahun, maka wajib membayar denda senilai, misalnya Rp. 50.000.000 ( lima puluh juta rupiah ) kepada PIHAK PERTAMA sebagai franchisor
2.  Setelah putus kemitraan dengan PT.A, maka PIHAK KEDUA wajib melepas semua atribut menyangkut Merk dan Logo yang terkait eksistensi Toko juga system IT software kasir yang digunakan di Toko dalam waktu paling lama 1 minggu setelah kontrak putus
3. PIHAK KEDUA tidak diperkenankan untuk mengcopy, menggandakan seluruh Buku Buku Panduan Standarisasi Franchise brnd A untuk digunakan di bisnis lain sejenis setelah kontrak putus
Klausul Denda ini nanti bisa kita tambahkan di perjanjian franchise sebagai "pasal jaga jaga"

Itupun mungkin dari pihak franchisee bisa menyerang balik franchisor mengenai alasan dia keluar dari perjanjian, mungkin dengan menyebutkan jika selama ini manajemen tokonya yang merupakan franchisee tidak mendapat support selayaknya yang dijanjikan dalam perjanjian franchise. Maka hal ini bisa saja jadi proses perdebatan jika dipermasalahkan. Itu juga akan berisiko besar bagi pihak franchisor dan berpengaruh pada franchisee lainnya yang masih ada.

Maka dalam bisnis franchise penting sebaiknya kita membuat factor barier, tujuannya agar tidak mudah pihak lain baik dari luar ataupun dari anggota franchisee Anda sendiri masuk ke bisnis ini secara terpisah, menduplikat system kerja sebuah bisnis yang dia sudah jalani atau amati prosesnya dan melihat jika prospeknya  akan menarik. Semakin kompleks dia merasakan repotnya kalau harus mengikuti perusahaan pioner dan berisiko gagal akan lebih besar dibanding kemungkinan berhasil, maka semakin susah pihak lain mencoba menjadi follower bidang bisnis Anda dan semakin susah lahir kompetitor selevel di bisnis yang Anda sudah sangat berpengalaman, memiliki team kantor pusat yang piawai handal dan sudah punya brand yang dikenal luas dengan citra unggul. 

Sebagai sharing saya jelaskan apalagi bahwa jika produk Anda ini adalah produk yang mudah sekali untuk didapat supplynya dimanapun atau mudah diproduksi dengan kualitas yang hampir sama dengan produk benchmark, memang hal seperti yang bapak khawatirkan ini sangat mungkin terjadi. Tapi ada hal yang membuat mitra franchisee akan sangat menghargai pihak franchisor dan merasa bahwa franchisor punya peranan sangat penting dalam sukses bisnis toko franchisenya selama ini, mungkin bisa dipertimbangkan cara sbb:

1. System kerja dibuat semodern mungkin, maka saya sarankan dari awal untuk menggunakan software IT yang custom sebagai system software kasir dan pembukuan. Jika perlu system operasional dan customer relation juga menggunakan software custom khas produk A. System kasir dan service operasional yang kita custom dengan fitur fitur khusus khas dari PT. A ini yang akan membuat toko franchise A punya ciri khusus dan memberi kemudahan kepada franchisee sekaligus memberi sinyal kepada mitra yang ingin putus bahwa tidak mudah membangun system seperti ini jika nanti putus kontrak. Jika takut justru nanti dari karyawan sendiri yang akan mengajak investor membuat bisnis yang sama, maka kita buat kontrak eksklusif dengan vendor IT tsb untuk tidak membuat aplikasi sejenis untuk klien lain di bidang usaha yang sama. Membuat perjanjian legal B to B lebih efektif dibanding perjanjian B to personal, karena setiap perusahaan punya identitas legal yang jelas dibanding pribadi yang tidak terikat hukum usaha. 

2. Perhatian yang intensif dan tulus. Strategi yang cerdas atas masalah yang terjadi di toko/ outlet sebagai opsi solusi yang disarankan kantor pusat. Selama masa kontrak franchise berjalan, kantor PT.A sebagai kantor pusat/ franchisor harus betul betul memberikan arahan teknis nyata kepada manajemen toko. Training rutin, coaching rutin, komunikasi via WA group untuk bantu memecahkan masalah toko, email strategi marketing selain Buku Standarisasi yang sudah disampaikan. Ini menyangkut karma baik. Jika kita berikan perhatian yang sungguh sungguh dan mitra franchisee merasa Tokonya sukses karena bantuan arahan, ide cerdas dan support moril dari franchisor, maka biasanya mereka akan enggan berpikir untuk lepas dari franchisor. Bahkan seteah 5 tahun mereka cenderung akan memperpanjang kontraknya dan bahkan tidak akan segan mereferensikan bisnis franchise brand A ini ke rekan investor lainnya. 
    
Juga misalnya bapak menggunakan biro konsultan/ mentor dalam membuka perusahaan franchise, bapak bisa minta kesepakatan/ perjanjian dengan biro konsultan/ mentor tsb bahwa konsultan tidak akan membantu klien lain untuk membuka konsep franchise yang sama/ sejenis dengan produk franchise PT.A.  Saya sendiri merasa membuat perjanjian dengan biro konsultan akan lebih mudah dan lebih memungkinkan dibanding mengikat karyawan atau klien franchisee. 

Yang terpenting saya pikir, bapak harus berusaha membangun perhatian yang layak proporsional dengan skill karyawan berpotensi, iklim kerja yang menyenangkan bagi karyawan dan iklim kerja yang menguntungkan untuk mitra franchisee yang menciptakan persepsi bahwa kalau saya keluar dari franchise brand A  atau lepas kemitraan dari PT.A, belum tentu saya bisa buat suasana iklim kerja dan iklim usaha seperti di brand A biarpun secara teknis saya sudah paham semua prosesnya. Justru pembedanya bukan pada produk lagi, tapi lebih di hal hal yang tidak bisa dibeli seperti perhatian, kecepatan respond, kecerdasan memberi opsi solusi, skill mentraining atau membimbing SDM toko/ outlet. Itu adalah hal hal intangible yang susah diusahakan sendiri atau dibeli di luaran, atau paling tidak itu butuh proses dan upaya keras untuk bisa sampai level seperti itu. Selama itu dirasakan masih yang terbaik sudah bisa didapat dari kantor pusat saat ini dan lebih baik menjaga daripada melepaskan lalu membuat baru lagi dari awal bahkan belun tentu berhasil. Maka itu akan menjaga karyawan potensial atau investor franchisee tetap bersama Anda dalam jangka panjang harusnya jadi salah satu prioritas kerja perusahaan. 


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)

Kamis, 01 Agustus 2019

Takut Berbicara Tidak Bermanfaat Apa apa


Beberapa kasus kenapa seseorang tidak mendapatkan kemajuan dalam hidupnya ternyata terkendala masalah "takut berbicara". Maksudnya adalah tidak bisa berbicara di depan umum, atau takut memulai bicara duluan dengan orang lain terutama jika orang yang baru saja dikenalnya, atau takut bertanya dalam suatu situasi walaupun permintaan pertanyaan sudah dilemparkan oleh pembicara untuk ditanggapi. 

Macam macam penyebabnya, antara lain rasa tidak percaya diri karena latar belakang ekonomi, mungkin karena kurangnya pengetahuan/latar belakang pendidikan, kurangnya pengalaman berinteraksi dengan orang lain di lingkungan baru, terbiasa bertahun tahun tinggal di satu lingkungan yang itu itu saja, latar belakang sering disalahkan atau tidak ditanggapi pada saat mencoba berbicara di keluarga dan beberapa hal sebab lainnya. Beberapa sebab bahkan sangat spesifik dan sudah mengakar sehingga membutuhkan bantuan psycolog untuk mengorek penyebabnya dan memperbaikinya. Tapi yang saya akan bahas saat ini adalah motivasinya, kenapa kita perlu memiliki keberanian untuk bisa mulai  "berbicara". 

Berbicara mewakili perasaan seseorang, bahkan mencerminkan isi pikiran dan pengetahuan seseorang. Banyak kita salah menilai orang jika hanya melihat dari penampilan, tapi pada saat dia berbicara baru bisa kita menilai kapasitasnya. Ada yang penampilan modis, kelihatan glamor berkelas, tapi begitu berbicara maka kita bisa hilang respect terhadap dia karena ternyata isi otaknya tidak secemerlang penampilannya. Atau sebaliknya pada awal bertemu agak meremehkan karena penampilannya sangat sederhana, tapi begitu dia berbicara dan kita berdiskusi maka timbul rasa hormat dan kagum kepada dia karena ternyata apa yang ada di pikiran, pengalaman,  visi jalan hidupnya jauh lebih bersinar daripada penampilannya, bahkan dibanding kita yang kita rasa sudah cukup hebat.
Tidak ada orang yang bisa menebak apa yang ada di dalam hatimu. Misal seorang istri yang terus terusan murung karena merasa suaminya tidak peka terhadap keinginannya, sementara suami betul betul bingung dan tidak tahu secara pasti apa yang sedang diinginkan istrinya. Sedikit sekali suami yang bisa membaca apa yang ada dalam hati istrinya. Maka akan susah sekali membangun hubungan suami istri yang kondusif jika istri tidak berani bicara menyampaikan apa yang sedang dia harapkan dari suaminya. Seandainya saja istrinya bisa bicara langsung kepadanya tentang apa yang sedang diinginkannya tentu hubungan tidak akan menjadi rumit.
Anda bisa jadi adalah seorang karyawan yang sudah tahunan berada di posisi dan jabatan yang itu itu saja. Tentunya gaji dan fasilitas yang Anda dapaykan juga itu itu saja. Sebenarnya Anda pintar dan cerdas, secara diam diam Anda bisa mendefinisikan dengan jelas apa saja kekurangan yang saat ini sedang terjadi dalam proses pekerjaan selama ini. Bahkan Anda tahu cara mengatasi kekurangan tsb untuk hasil kerja yang lebih efektif dengan hasil lebih optimal. Tapi karena Anda tidak berani bicara mengemukakan pendapat dalam setiap meeting maka atasan Anda tidak pernah tahu jika sebenarnya Anda lebih dari yang atasan dan rekan rekan Anda tahu.

Di lingkungan yang baru saja Anda tinggali setelah pindah dari kota terdahulu ke kota tempat tinggal Anda yang baru ini, sudah selama ini sepertinya Anda tidak punya teman teman baru. Hidup Anda rasanya sepi hanya sekedar kerja setiap hari tapi setelah itu membosankan. Tidak ada kawan untuk menyalurkan hobby, untuk sekedar kongkow di cafe, untuk menemani berolah raga sore, dan kehidupan normal lainnya. Tidak punya teman karena tidak berani menegur orang orang yang baru ditemui. Bahkan sekedar bertegur sapa dengan tetangga saja tidak berani. Akibatnya Anda akan dinilai sebagai tetangga baru yang sombong karena tidak bersosialisasi. Hal ini membuat Anda sedih karena sebenarnya Anda ingin sekali punya kawan baru yang banyak. Jadi jelas sudah kalau tidak berani bicara ini akan sangat merugikan bagi Anda sendiri.

Memang ini masalah kebiasaan. Kebiasaan diam, tidak berani bicara, jangan jangan bahkan tersenyum saja susah lama lama bisa jadi sifat karakter Anda, tapi tentu saja karakter yang merugikan. Apakah bisa dirubah? tentu saja bisa. Rubah kebiasaan Anda, rubah tindakan Anda, awali dengan rubah mindset Anda. Yakinkan dalam hati Anda bahwa saya akan jadi orang susah dalam 5 tahun ke depan jika tetap saya tidak berani mulai berani berbicara dengan orang lain atau di depan umum. Lalu rubah tindakan Anda. Mulailah dengan sapaan ringan jika bertemu tetangga, misal selamat pagi mas, selamat sore mba, assalamualaikum pak, dst..Lakukan sebanyak mungkin jika bertemu orang. Tidak ada ruginya, paling kalau lagi apes Anda akan dicuekin saja. Tapi toh Anda tidak akan rugi apa apa dengan masalah tsb bukan? Jalankan terus jangan pedulikan, yang ingin berubah kan Anda bukan orang lain. Lihat bagaimana perubahan pelan pelan terjadi. Tetangga Anda yang tadinya suram wajahnya kalau melihat Anda, sekarang sudah mulai tersenyum dan menyapa Anda. "Apa kabar mas? baik sehat?". Tentu saja Anda harus menjawab dengan sopan pertanyaan sapaan ini, jangan lupakan etika supaya Anda tidak mendapat image negatif dari orang lain. Maka dari perkembangan sapaan ini komunikasi mulai terbuka. 

Jadikan ini kebiasaan. Anda harus terbiasa untuk bertegur sapa dengan tetangga tsb. Lakukan itu setiap hari setiap saat jadikan kebiasaan baru. Maka jika sudah lebih dekat dan sudah sering terjadi percakapan bolak balik dan apapun kemudian bisa terjadi. Mungkin ada ajakan ronda bersama, undangan arisan RT, ikut lari pagi bareng atau bahkan ajakan buka warung makan sama sama di depan jalan. Hidup Anda berubah jadi lebih berwarna dan dinamis. Mungkin saja ajakan usaha bersama ini salah satunya akan berhasil menjadi jalan rejeki dan merubah hidup Anda jadi lebih baik. 

Ini Anda baru berbicara di lingkungan tetangga, coba Anda perluas wilayah berani bicara Anda ke pertemanan, ke lingkungan kawan sekantor, lalu berani berpendapat kepada pimpinan kantor, berani memberi saran dalam meeting kerja, lalu meningkat berani presentasi di depan investor, dst. Tunjukan pada kawan kawan sekantor dan atasan bahwa Anda juga punya pandangan yang innovatif kreatif   tentang solusi sebuah masalah kerja.  Lama lama atasan Anda akan mempertimbangkan posisi jabatan yang lebih baik dan pantas buat Anda. Saat ini belum tentu karyawan yang sudah loyal dan kerja sudah tahunan di perusahaan yang bisa cepat naik posisi. Tuntutan kerja saat ini bukan berorientasi kepada senioritas tapi kepada kapasitas. Kapasitas dan kecerdasan seorang karyawan potensial seperti Anda hanya bisa terlihat jika Anda berani speakout dan memaparkan gagasan dan pemikiran Anda. Lihat kan.., berani bicara ternyata akan merubah hidup Anda.

Semakin sering Anda bicara maka semakin ahli Anda di bidang tsb. Walaupun mungkin topiknya masih yang sama tapi Anda semakin ahli menambahkan pernak perniknya untuk menambah menarik penyampaian. Selanjutnya berani bicara, tapi jangan lupa perbanyak juga mendengar. Karena Anda perlu terus menambah wawasan dan pengetahuan Anda agar materi pembicaraan Anda terus bertambah.

SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)



Senin, 01 Juli 2019

Tidak Bisa Senangkan Semua Orang



Ada pertanyaan bagaimana sikap menjadi pemimpin sebenarnya? Jika terlalu keras, tidak disukai bawahan. Tapi jika terlalu lembek malah jadi susah mengatur karyawan. Tata tertib susah diterapkan. Selalu ada saja 1-3 orang karyawan  trouble maker bahkan provokator.

Menjadi leader/manager/pimpinan bukan berarti kita harus berusaha untuk disukai semua orang. Tugas Anda adalah membangkitkan potensi terbaik yang team Anda miliki, meningkatkannya, memberdayakan dan mengarahkannya secara personal maupun team agar bisa berkinerja sesuai dengan SOP, bersama sama menuju tujuan yang sudah ditetapkan perusahaan. Jika dalam rangka tujuan ini dalam prosesnya ada anggota team yang tidak bisa mengikuti, mungkin dalam rangka kekurangan skill, kekurangan motivasi, atau bahkan ketidak inginan untuk memberikan kontribusi sesuai yang diharapkan, maka Anda wajib untuk mengantisipasinya. Jangan sampai 1-3 orang anggota team seperti ini menghalangi soliditas team dan memperlambat kinerja team mencapai tujuan.

Pertama Anda harus tanyakan apa masalah mereka, mungkin ada masalah intern yang mengganggu. Kita tetap harus perlakukan anggota team sebagai manusia. Jika dia bisa terbuka kepada Anda, menceritakan apa yang menjadi kendala, bukan berarti juga Anda harus menjadi solusi dari masalah tsb. Sebatas Anda bisa beri saran dan nasihat lalu itu bisa merubah kinerjanya maka Anda sudah sangat baik bertindak sebagai pimpinan. Tapi jangan fokus dan waktu Anda habis untuk menangani masalah pribadi mereka. Anda bertugas dan bekerja untuk perusahaan, bukan sebagai konselor pribadi. 

Selanjutnya Anda bisa arahkan anggota team yang bermasalah ini pada bagian SDM. Biar bagian SDM melakukan tahapan proses konseling pantauan dan penilaian bahkan sampai keputusan tetap mempekerjakan atau memberhentikan. 
Sebaiknya tidak ada penilaian terhadap karyawan berdasarkan like and dislike atau pertimbangan tidak objective lainnya. Itu akan mengacaukan nalar dan logika Anda bahkan berpotensi memancing opini dari bawahan Anda jika Anda tidak fair , tidak profesional dan tidak bijaksana sebagai pemimpin.

Justru kegagalan pemimpin adalah berusaha menyenangkan semua pihak dan tidak fokus pada tujuan utama. Begitu juga dalam proses kerja menuju pencapaian tertentu. Pribadi pribadi punya banyak kepentingan dan keinginan yang kebanyakan bernilai pemikiran pribadi. Tidak ada atau sedikit sekali keinginan pribadi yang bisa sama karena berbicara melalui proses, cara, metode, taktik, startegi yang walaupun tujuannya sama tapi prosesnya bisa berbeda. Yang pasti tujuan bersama memang mengandung pendapat pro dan kontra terutama dalam prosesnya. 

Tapi opsi opsi cara mencapai tujuan bersama ini tetap bisa diambil dari masukan member team. Dengarkan pendapat orang per orang dan pertimbangkan dengan pikiran yang jernih berdasarkan keilmuan dan pengalaman. Kolaborasikan semua input dengan strategi yang Anda yakini bisa mencapai tujuan tsb secara lebih efektif dan cost paling efesien dengan keberhasilan yang paling optimal.

Kecerdasan, pengalaman, cara Anda memutuskan strategi sebagai solusi, memberi arahan kerja dan bimbingan teknis detil kepada team akan secara clear dan jelas menegaskan bahwa Anda adalah pimpinan yang pantas, mampu dan harus diikuti dan dihormati, bukan ditakuti. Justru kenapa itu dibutuhkan pemimpin yang bijaksana, cerdas, berpengalaman dan tegas mengutamakan tujuan bersama dan tidak fokus pada menyenangkan hati orang per orang dalam teamnya. 

SEMANGAT SUKSES (Mirza A.Muthi)

Sabtu, 01 Juni 2019

Kenapa Jadi Pengusaha?


Ada pertanyaan kenapa ada orang yang walaupun sudah berkali gagal bikin usaha, tetap saja dia terus mencoba bikin usaha lagi?
Karena bagi mereka atau bagi saya pribadi, membuka usaha bukan sekedar mencari nafkah, tapi juga adalah cara beribadah. Sebagaimana yang kita sama sama tahu bahwa Nabi Besar Muhammad SAW adalah pedagang. Mungkin jaman dahulu, usaha adalah dagang. Dagang adalah jenis usaha yang paling konvensional , paling tua dan sederhana. Saya mencoba menganalisa kenapa lebih baik seorang muslim berdagang atau membangun usaha?

Sebagaimana setiap muslim pahami bahwa ibadah didefinisikan sebagai nilai positif dari hubungan yang dibangun. Hubungan manusia kepada Alloh SWT Maha Pencipta dan hubungan manusia dengan manusia. Nilai positif hubungan antara umat dengan Tuhannya adalah pahala. Tapi siapa yang yakin bahwa ibadah seorang ummat diterima Alloh SWT? Sebagaimana kita beribadah untuk pribadi, sholat wajib dan sunnat, puasa, zakat, naik haji dan umroh, mengaji, berdoa, berdzikir dan amalan amalan lain. Walaupun rasanya kita sudah bersungguh sungguh beribadah, lalu dari ibadah yang mana yang kita yakin akan diganjar pahala? Seberapa besar pahala yang telah kita kumpulkan selama hidup ? apakah sudah cukup untuk bekal kita di akhirat nanti agar terhindar dari siksa neraka? Siapa manusia yang pasti tahu ? Hendaknya sebagai hamba kita tetap berusaha beribadah sebaik baiknya, sekhusuknya, seiklashnya, dan walaupun kita tidak tahu dari amalan ibadah mana yang berpahala bagi kita, tetap kita berprasangka baik kepada Alloh SWT untuk menerima seluruh amal ibadah kita. 

Itu hubungan vertikal kita dengan Tuhan kita. Tapi dalam hubungan antar manusia, yang sudah pasti kita berinteraksi setiap hari dengan sesama manusia, bisa kita rasakan dan amati langsung. Jalanilah fitrah manusia sebagai rahmat bagi manusia lain dan seluruh alam. Lebih baik memberi daripada menerima, yang berlebih memberi yang kekurangan, dan banyak lagi ajaran tentang pola hubungan antar manusia yang bernilai positif.  Jikapun kita tidak tahu pasti bahwa Alloh SWT mengganjar pahala bagi upaya kita, misal dengan jadi pengusaha lalu menggaji karyawan atau pekerja kita. Tapi secara fakta kita sudah yakin bahwa karyawan atau pekerja kita bahagia setiap menerima gaji /upah yang digunakan untuk menghidupi keluarga mereka, istri dan anak anak mereka. Gaji atau upah yang kita keluarkan untuk karyawan dan pekerja di usaha kita jelas memberi manfaat positif dan itu bisa memancing doa dan rasa syukur dari karyawan kita atas pekerjaan yang dilakukannya sehari hari. Tidak jelas memang apa ini yang pantas disebut sebagai rahmat bagi sesama manusia. Tapi yang jelas dengan kita jadi pedagang atau jadi pengusaha, sekalipun hanya usaha kecil yang mempekerjakan 1-3 orang pekerja saja, tetap hasil yang disharing ke mereka bisa nyata membawa kebahagiaan bagi mereka dan keluarganya. Bagaimana kalau pekerjakan 30 orang, 300 orang? Belum lagi pihak lain yang ikut tergerak rejekinya karena usaha kita, supplier, pengantar barang, mungkin sampai tukang sampah. Memberi "penghidupan" bukan seperti memberi zakat, infaq atau sodaqoh kepada seseorang. Memberi penghidupan adalah kewajiban untuk ikut mendidik, menggali potensi terbaik seseorang, memberi kesempatan pengalaman kerja, pengalaman hidup  memberi pengajaran selama mereka diberi masa bekerja bersama Anda. Jikapun nanti Anda sudah tidak mempekerjakan mereka lagi, maka dari situ mereka sudah bisa mencari kesempatan dan peluang lain yang lebih baik. Itulah "memberi penghidupan".

Jikapun usaha kita ternyata diganjar pahala oleh Alloh SWT maka itulah berkah bagi kita. Sekeyakinan saya setiap niat dan upaya baik pasti akan diganjar pahala walaupun sekecil biji zarah. Jika tidak bisa memberi uang, berilah mereka sekedar nasihat atau pengetahuan. Bukan hanya sekedar sibuk beribadah sendiri demi tujuan menimbun pahala amal ibadah sendiri tapi jelas tidak bisa menjamin juga bahwa kita akan dapat pahala amal ibadah kita. Atau hanya sibuk bekerja untuk keamanan financial sendiri, menabung sebanyak banyaknya, deposito, invest emas, beli saham, tanpa digunakan dan diputar untuk hal yang ikut melibatkan orang lain dan bisa untuk membantu penghidupan manusia lain.

Bagi manusia berusahalah dan beribadahlah yang pasti secara nyata bisa kita rasakan dan yakini bahwa apa yang kita perbuat dan lakukan jelas berdampak positif bagi manusia lain. Dalam hal ini bisa memberikan penghidupan bagi keluarga orang lain adalah manfaat nyata dalam hal ini manfaat secara penghidupan. Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita berstatus sebagai pedagang dan pengusaha. Sebagaimana hal profesi yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW.

Masalah gagal usaha, bangkit lagi dan gagal lagi, itu lebih baik dianggap sebagai ujian dalam upaya kita beribadah. Belum beriman seseorang sebelum dia diuji oleh sakit, kegagalan, kesusahan, kekurangan dan tetap bersyukur. 

Bukan juga seseorang yang hidupnya mulus, senang, aman seperti tidak pernah susah atau tidak pernah bermasalah, maka dia adalah manusia yang paling beruntung, paling mulia  atau paling berpahala. Lalu semua seperti harus mencontoh kepadanya. Bukan juga mereka yang hidupnya kelihatan susah, dicoba jatuh bangun, berjuang keras mengejar tujuan hidupnya, adalah manusia yang paling gagal, tidak beruntung, salah pilihan hidup, berdosa dan tidak punya pahala. Hanya mungkin saja waktu  baiknya bagi dia belum tiba. Setiap manusia punya takdir dan tujuan sendiri masing masing dalam hidupnya. Tidak bisa dipaksakan satu juta manusia harus ikut 100% cara hidup dan tujuan hidup dari satu manusia. Setiap kita punya panggilan hati sendiri. Tapi semua profesi adalah baik. Mau jadi pengusaha, pedagang, karyawan atau sekarang musim pekerja online, semua baik dan selalu lakukan yang terbaik.

Sebaiknya kita sebagai manusia juga jangan coba menjadi hakim di dunia tentang amal ibadah seseorang, bisa menentukan kalau dia banyak dosa , salah jalan atau yang ini lebih mulia dan banyak  pahalanya. Tidak pada tempatnya manusia yang tempatnya salah dan dosa bisa menilai pahala dan dosa manusia lain. Apakah dia sudah merasa menjadi sebagai guru kehidupan? Atau juga bisa mengatur tentang apa yang cocok dilakukan seseorang sebagai jalan hidupnya,  yang bisa menentukan bahwa seseorang harusnya begini, melakukan itu, tidak boleh begini atau salah jika melakukan itu. Juga misalnya mengatakan bahwa dia tidak bisa usaha, lebih baik jadi pekerja. Gagal terus kalau bikin usaha, cuma buang buang uang. Ini adalah orang orang yang cuma berpikir untuk keamanan dan kepentingan pribadi dan tidak suka memikirkan orang lain. Hidup terus berputar, yang kita lihat hanya sebatas yang kita tahu sampai hari ini. Tapi siapa yang tahu di masa depan justru keadaan berbalik, dia akan jadi lebih sukses dari kita dan justru nantinya kita atau anak anak kita akan butuh bantuan dari dia.

Jangan terlalu memikirkan pribadi, terlalu mencintai diri sendiri, menghindari resiko demi kenyamanan hidup, itu bukan misi manusia diturunkan ke bumi. Padahal Nabi Besar Muhammad SAW pun disaat hidupnya penuh derita perjuangan, jauh dari kenyamanan, sampai di sakaratul mautnya masih terus memikirkan ummatnya...bukan dirinya sendiri. Hendaknya seorang pengusaha adalah juga seorang pejuang, tidak mengharamkan derita dari perjuangan, mau menerima resiko gagal dan tidak hanya mensyukuri dan mendewakan  kenyamanan hidup. Manusia besar tidak lahir dari kenyamanan, tapi dari cobaan, ujian, perjuangan, jatuh bangun yang dialami dan tetap bertahan, bangkit lagi dan bersyukur. Yang terpenting, setiap kegagalan adalah hikmah untuk dipelajari kekurangan dan kesalahannya untuk bangkit lebih baik lagi, tapi bukan untuk berhenti berusaha, apalagi berhenti berusaha  karena dipaksa orang lain. Karena setiap manusia akan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil dan apa yang dikerjakan selama di dunia ini. Bukan orang lain dan bukan mereka, tapi Anda sendiri yang akan menjawab pertanyaan Ilahi, apa yang sudah Anda lakukan bagi sesama selama Anda diberi waktu hidup di dunia. Maka bersyukurlah bagi mereka yang terus disupport anggota keluarganya untuk terus berjuang menjalani misi hidupnya secara baik dan bermanfaat walaupun jalan hidup tidak selamanya indah.


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)