Sabtu, 30 Juni 2018

Merubah Konsep Menuju Mall Millenial



Mahasiswa bertanya mengenai situasi mall saat ini yang makin lama makin sepi dan saat ini kaum millenial makin jarang yang masuk mall. 
Pertanyaannya, bagaimana agar Mall saat ini bisa tetap menarik buat generasi millenial untuk datang? Apakah bisa merubah konsep mall yang ada saat ini ke arah mall yang milenial oriented?

Mall Service saat ini dibagi dalam beberapa grade. Mulai dari grade A sampai C dan plaza. Biasanya yang disebut mall memiliki persyaratan luasan area bisnis efektif minimal, area public dan traffic pengunjung mall, sekian lot parkiran baik indoor maupun outdoor. Beberapa mall juga dilengkapi area hiburan outdoor seperti waterboom dan kolam renang. Pasti harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti mushola, bank, fitnes. Beberapa mall besar terkoneksi dengan apartment atau perkantoran di lantai atasnya, bahkan ada yang langsung terhubung dengan sarana transportasi public seperti busway dan kereta listrik. Bisa juga thematic peruntukannya ada yang sangat spesific, misal mall fashion atau mall electronic/IT, atau hanya food market mall, dll. Bisa juga jika gedung mall cukup luas dan terdiri dari beberapa lantai maka zoning spesific ini dibagi bagi per lantai. Ada lantai fashion, lantai electronic IT dll, lantai kuliner/fnb dan biasanya di top floor ada zona entertainment. Jadi rasanya tidak ada rumusan baku mengenai bagaimana harusnya performance sebuah mall. Tergantung bagaimana perencanaan dari owner menyangkut luasan area tersedia, konsep bisnis dari  developer dan apa tujuan dari didirikannya mall tsb di kawasan tsb. Stand alone , terintegrasi dengan bangunan diatasnya atau terkoneksi dengan fungsi kawasan.

Saat ini investasi di Mall sangat besar sekali, maka konsep Mall harus sangat direncanakan dengan tepat dan bahkan developmentnya harus sustainable untuk menjangkau berbagai perubahan trend segmen pasar. Tapi perilaku konsumen juga sedang berubah. Banyak Mall mulai sepi pengunjung. Gen milenial lebih ramai kumpul di cafe cafe gaul, komunitas hobby dan belanja via online.  Banyak yang mulai menghindari mall untuk tempat kongkow. Terutama mall yang banyak mengusung tenant luxurious brand, gaya hidup kelas tinggi, sudah tidak ramai lagi pengunjungnya. Masyarakat kebanyakan mulai lebih menghargai experience life style dibanding high end life style. Ini mau tidak mau juga mempengaruhi motivasi orang berkunjung ke mall.

Untuk merencanakan mall segmen milenial, kadang tidak perlu mall yang sangat besar dan luas, tapi cukup plaza atau ukuran menengah tapi dipenuhi dengan berbagai fasilitas dan fitur yang support dan tepat demand juga trend untuk men-target segmen milenial datang berkunjung. Persoalannya bagi pebisnis, apakah segmen milenial ini benar bisa jadi penghasil omzet yang profitable bagi bisnis mall? Mengingat segmen milenial kebanyakan masih belum menghasilkan pendapatan yang sudah mapan dan stabil, yang memungkinkan mereka membelanjakan sejumlah uang besar secara kontinu yang selalu diinginkan oleh pengusaha mall dan para tenant yang invest di mall tsb.

Karena bagi pengusaha, mau direncanakan bagaimanapun tetap tujuan akhirnya adalah pengembalian investasi yang cepat agar cepat mendapatkan profit di periode kelola berikutnya. Sedangkan generasi milenial saat ini mengalami perubahan trend perilaku dibanding generasi sebelumnya. Saat ini mereka lebih senang mencari experience, pengalaman hidup bersama kawan kawan, travelling juga wisata aneka kuliner, dibanding membeli barang barang konsumsi semacam fashion branded. Yang paling sering dibeli justru gadget, travelling, menu menu baru yang gaul dan terjangkau dan item produk golongan hobby dan teknologi.

Merubah mall yang sudah ada dengan konsep baru untuk mengantisipasi berubahnya demand pasar dan trend perilaku nge-mall masyarakat bukan hal yang mudah. Berubah konsep, maka bisa jadi harus merubah layout, zoning, fasilitas dominan dan support, bahkan prioritas parkiran dan jalur akses kendaraan. Butuh milyaran juga untuk merubah konsep dan terapannya secara fisik, belum dilanjutkan dengan merubah brand extention, re-branding, cara komunikasi dan bahkan merubah tenat tenant yang sudah occupied.

Generasi milenial senang datang bergrup grup. Mungkin 1 grup minimum 5-10 orang sekali jalan bersama. Perilaku sedikit sedikit selfie, apapa apa harus masuk sosmed, sangat menguntungkan bagi produsen atau sebuah usaha untuk melibatkan konsumen untuk mem-viralkan produk/jasanya melalui gadget dan jaringan sosmed pertemanannya. Hal hal tsb yang akan didapat sebagai benefit extra adalah traffic dan volume pengunjung, jika bukan dari volume transaksi. Maka yang bisa relevan dengan volume pengunjung, misalnya mall jenis ini akan jadi spot yang sempurna untuk pemasangan iklan produk atau pameran produk segmen generasi milenial. Ada spot spot di mall yang dibuat oleh produsen atau sebuah usaha agar dibuat instagramable agar layak foto. Pihak produsen juga bisa nego dengan pengelola mall untuk menyewa space display  iklan komersial di area mall. Pihak mall harus menata seluruh area dinding, tiang kolom, escalator, lift, area mall, toilet, parkiran, jika mungkin ceiling. Intinya setiap inci dari mall harus begitu menarik dan bisa memancing generasi milenial datang menikmati suasana, selfie dan mengaktualisasikan dirinya inline dengan apa yang sudah disiapkan di mall. Bisa saja pemasukan mall gen milenial ini didapat dari tiket masuk mall yang sudah seperti wahana entertainment ini. Tidak usah tiket harga mahal, tapi murah saja karena juga akan dikali unit tiket terjual dan frekuensi per harinya kepada pengunjung. Pemasukan mall lain dari iklan iklan yang dipasang oleh banyak produsen atau brand usaha dalam bentuk paket dekorasi interior yang disewakan per spot secara lebih artistik dan instagramable. Manajemen Mall juga tidak perlu mengalokasikan budget renovasi terlalu besar lagi karena biaya ditanggung oleh klien/ mitra vendor pemasang iklan.

Secara praktis dan singkat saja, hal hal yang harus dirubah dari sebuah ( misalnya ) mall grade A atau B ke mall spesific segmen generasi milenia, mungkin bisa dilakukan sbb: 
1. Harus down-grade dari all aspect /classnya. Kesan beda bisa  mulai dari nuansa/image design interiornya. Lebih berwarna, mungkin menggunakan mural 3D, lebih banyak lampu warna, backsound musicnya beda
2. Pangsa anak muda 75% pengendara motor, sediakan area parkirnya yang lebih luas, nyaman, tidak terpanggang panas matahari atau kehujanan dan lampu terang sampai malam.
3. Konsep food entertainment: foodcourt dengan set kursi meja makan bersama dan dikelilingi konter konter jual dan masak pertunjukan aneka menu yang gaul dan familiar di kalangan anak muda
4. Harga sewa konter lantai gen milenial ini harus lebih murah daripada di lantai  bawahnya yang masih berkonsep existing. Atau luasan konter sewanya jauh lebih kecil karena hanya area produksi atau area display saja, jadi tidak dibebankan tenant ke harga menu atau produk. Jadi gen milenial ini bisa makan di mall dengan pilihan menu ringan jauh lebih banyak, lebih lengkap tapi juga dengan harga yang lebih terjangkau harga beli per porsi menunya
5. Ada panggung performance di beberapa spot. Mall gen milenial haris aktif dengan acara anak muda. Semacam festival music atau bazar yang ikut melibatkan penontonnya sendiri. Acara panggungnya khas anak muda: live music, accoustic performace, standup comedy, layar tancap, bedah buku, gathering komunitas hobby, seminar, dll. Jika perlu siapakan zona khusus gratis sewa yang bisa digunakan grup/kelompok/sekolah/komunitas secara kalender event.
6. Perbanyak spot spot foto selfie yang instagramable agar lantai lantai mall yang dirubah konsepnya cepat diaware via medsos
7. Mushola tersedia di setiap  lantai dibuat di area lebih luas. Bagusnya generasi milenial saat ini lebih gaul tapi sekaligus lebih relegius.
8. Ada zona display case utk produk produk offline, hanya konter kecil 150 x 70 pajangan produk sample dalam kaca transparant. Dengan informasi atau kartu nama kontak langsung. Diganti ganti produknya per periode. Jika perlu dilengkapi dengan monitor touchscreen agar konsumen bisa meng-explore sendiri indormasi via IT yang disediakan di tiap unit display showcase. Display showcase ini berderet di sepanjang zona ini. Konter konter display / showcase display produk yang hanya berukuran kecil hanya untuk mendisplay produk non sales, harus lebih dominan dibanding konter sales yang berukuran lebih luas. Ini untuk produk produk yang dijual via internet/ on-line. Jadi  konter display showcasenya tidak usah pake  penjaga toko/wiraniaga. Cuma display saja dan keterangan tertulis peminat bisa klik IG, website atau facebook kontak WA ke mana atau bisa dicek di channel marketplace apa. Konter konter showcase displaynya di layout berjajar di zona khusus spt hall exhibition.  Bisa ada minimal 100 unit konter showcase display berbeda produk. Jadi Mall generasi milenial ini akan jadi pusat display produk pasar semua produk online di Indonesia
9. Ada lantai di paling atas, bersamaan dengan zona entertainment, hanya menjual produk dan accesories khas anak muda. Brand local dan populer karena price affordable. Jika perlu produk produk dari UMKM  Tidak ada produk produk  brand international
10. Jika perlu setiap escalator ke setiap lantai sdh mulai ada informasi khusus dgn brand thematic setiap lantai. Pembedaan brand tiap lantai ini akan membedakan dengan jelas zoning peruntukan atau thematic, diikuti oleh perubahan color, konsep dan karakter all interior mall dan tenant
11. Nuansa interior dibuat dari komponen artistic painting mural,  potongan kaca kaca warna kompilasi, efek lampu laser kombinasi warna, lebih banyak ornamen/accesories gantung juga artificial plant & flowers.
12. Untuk brand awareness  yang baru ini, PR mall bisa  menggunakan brand ambassador idola idol anak muda untuk acara press con launching film anak muda, album music band/penyanyi muda, gathering dengan tokoh tokoh muda panutan/teladan, mengundang kampus kampus se Jakarta secara bergiliran (dijemput bus khusus) agar segera diaware secepat mungkin oleh setiap anak muda yang hadir
13. Kalau perlu securitynya juga beda seragamnya dari security tiap lantai. Lebih bermotif seragamnya tidak terkesan seram.  Pakai seragam seperti polisi hutan dengan sepatu gunung lebih kekinian. Kalau bisa securitynya pake inline roller skate/sepatu roda/semacamnya jadi lebih gaul dan attraktif
14. Setelah semua infra structure, dekorasi interior, fasilitas, image dan attribute, baru dipromo besar besaran perubahan karakter baik secara keseluruhan atau baru hanya baru per beberapa lantai saja dan brand baru  lewat media massa paper, TV, radio dan online.

Ini namanya strategi rebranding untuk mengambil segmen target yang baru (usia lebih muda) dan extended target market di lantai lantai yamg di re-concept diluar existing target segmen premium yang selama ini sudah dimiliki Mall tsb. 


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)

Jumat, 01 Juni 2018

KEHIDUPAN KEDUA



Tanya :   Assalamualaikum pak Mirza

Saya dulu adalah pengusaha yang sukses. Secara ekonomi rasanya dulu tidak ada yang susah. Apapun yang saya inginkan pasti bisa saya penuhi dengan mudah. Tapi semua sekarang sudah berakhir, rasanya bahkan rasanya secara fisik dan mental saya akan susah untuk bangkit seperti masa lalu. 
Mohon pencerahannya pak, bagaimana saya menyikapi kehidupan saya yang gagal ini.
Wassalam

Ibu NN


Jawab :   Waalaikum salam bu

Tetaplah jadi orang baik dan jangan pernah putus asa. Ibu masih sehat dan hidup, berarti ibu masih diberi kesempatan untuk bangkit lagi. Kita harus fokus kepada banyaknya rahmat dan kesempatan yang kita dapat hari ini, dibanding "keberuntungan" di masa lalu. Mungkin masa lalu adalah masa kejayaan kita, memang waktunya kita, jamannya ibu. Dimana ibu dilimpahi banyak penghormatan, banyak kelimpahan rejeki, banyak sanjung pujian, dan memang seakan dunia semua indah. Tapi bagaimanapun hidup bisa berubah secepat itu dan tidak bisa ibu cegah. Karena ibu tidak memiliki waktu. Hanya Alloh SWT yang membolak balik nasib ibu berdasarkan apa yang sudah ibu tanam dan memang sudah jadi rencanaNYA sebagai ujian bagi ibu dan bagi banyak orang termasuk saya sendiri.

Saya sering berpikir, apakah memang keberhasilan yang kita pernah dapatkan di masa lalu "hanya keberuntungan?". Kalau memang kejayaan kita itu adalah kemampuan dan kehebatan kita, mengapa itu tidak bertahan sampai sekarang? Memang ada kejadian kejadian diluar skenario yang terjadi yang menjadi titik balik berubahnya nasib kita. Tapi bagaimanapun tetap sulit kita untuk kembali bangkit pada posisi kejayaan kita dahulu. Sulit mengumpulkan serpihan serpihan dari kepingan prestasi masa lalu agar bisa tegak berdiri seperti waktu itu.

Itulah rahasia Alloh SWT yang maha kuasa. DIA yang kuasa memilih, menilai, menguji, memelihara iman, memberi berkah dan rejeki, bahkan merubah arah langkah umatNYA. Yakinilah pasti ada maksud Alloh SWT pada kita dan berprasangka baiklah. Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu. Toh sampai saat ini, kondisi ekonomi ibu juga tidak susah susah amat. Hanya turun level ekonomi dari yang berlebihan menjadi cukup.

Maka fokuslah pada rahmat dan rejeki yang masih ibu bisa dapat hari ini. Ibu pernah sukses, pasti bisa sukses lagi bahkan bisa lebih sukses dari yang lalu. Ibu sudah tahu cara menjadi sukses dan mungkin sudah tahu kenapa yang lalu bisa gagal? Mungkin ada kesalahan tidak sengaja yang pernah ibu lakukan dan itu jadi penyebab mulai turunnya bisnis perusahaan ibu. Sekarang ibu sudah tahu kesalahan apa itu dan bisa memulai lagi dengan menjauhi masalah tsb.

Penurunan usaha atau ibu sebut kegagalan hidup bukanlah betul betul kegagalan. Mungkin saat itu Alloh SWT menilai jika ibu dibiarkan terus menanjak ke puncak sukses, maka ibu akan menjadi (maaf..) besar kepala dan sombong. Melupakan ibadah kepadaNYA. Atau kalau sudah terlalu dipuncak baru dijatuhkan, maka rasa sakitnya akan sangat perih pedih dan ibu akan tidak bisa terima. 

Ibu masih disayang oleh Alloh SWT. Berprasangka baiklah kepada Tuhanmu, DIA tahu apa yang terbaik dan dibutuhkan umat kesayanganNYA. Kebanyakan kita hanya mengejar keinginan dan memenuhi hawa nafsu, sedangkan mungkin yang kita butuhkan tidak sebanyak itu. Kita semua sedang diberi waktu untuk memperbaiki pondasi hidup kita dulu, mungkin dari segi keimanan, kerendah hatian, menghargai orang orang yang membantu kita sampai ke puncak, sampai pondasi kita menjadi kukuh dan kuat lalu siap untuk membangun menara sukses kita lebih tinggi lagi sekaligus lebih bermanfaat bagi sesama manusia disekitar kita.
Hidup bisa menjatuhkan Anda sampai di titik terendah, tapi Anda yang harus memilih: ingin bangkit atau pasrah mundur kalah dan tersingkir. Jika Anda masih diberi usia, berarti Anda masih diberi kesempatan untuk ambil kesempatan "kehidupan kedua" Anda.
#motivasihidup
#konsultasibisnis
#bisnis
#UKM


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)

Selasa, 01 Mei 2018

Jadilah Orang Baik Agar Panjang Rejeki



Tanya : 

Pak Mirza, saya pernah diberi kepercayaan mengelola sebuah cafe kecil. Milik seorang bapak yang buatkan cafe ini untuk anaknya. Secara keseluruhan cafe berjalan lancar, hanya pada suatu saat saya harus cuti agak panjang sekitar seminggu karena ibu sakit di daerah. Itupun saya sudah minta ijin cuti kepada anaknya. 
Tapi pada saat saya kembali, ternyata saya sudah dipecat. Sudah ada pengganti saya. Bahkan isyunya bahwa saya tidak pernah membuat laporan bulanan, ada kasbon yang tidak pernah dibayar, tamu tamu yang datang karena kerja anaknya, intinya keberadaan saya di cafe tsb tidak ada gunanya. Padahal semua itu tidak benar. Memang saya tidak pernah melapor langsung ke bapaknya sebagai pemilik usaha, tapi hanya ke anaknya saja yang memang ditempatkan di cafe urusan operasional.
Saya jadi seperti dicampakan begitu saja, tidak diperlakukan secara adil, bahkan nama baik saya jadi rusak, karena kabar tidak benar tsb tersebar juga kemana mana, mungkin dari karyawan yang dapat info tidak benar dari anak pemilik cafe.

Lalu bagaimana saya harus bersikap? Mohon pencerahannya.

Jawab:

Wah, ini betul betul persoalan klasik yang biasa dihadapi oleh pengelola sebuah bisnis dalam hal ini cafe dalam lingkup bisnis keluarga. Jangan khawatir, banyak pengelola lain juga menghadapi masalah ini. Dicurangi oleh anak atau keponakan atau saudara dari pemilik usaha itu sendiri, pada saat dia merasa pemilik (baca:orang tua) lebih percaya kepada orang lain (baca:pengelola) dibanding anak atau saudara sendiri. Anak juga manusia biasa, punya harga diri, punya ke'aku'an, punya rasa iri juga rendah diri, atau justru punya harga diri : kalau saja saya diberi kesempatan maka saya bisa buktikan kalau saya juga  mampu. 

Yang bahaya kalau motifnya semata hanya uang. Kalau seluruh keuntungan bisa saya dapat 100% buat apa saya bagi bagi kepada pengelola sebagai prosentase fee. Maka kecurangan bisa saja dia lakukan secara sistemik dan terencana dengan tujuan akhir menjatuhkan nama baik pengelola di hadapan pemilik, menggerus kepercayaan pemilik terhadap pengelola, bahkan jika mungkin membangun persepsi bahwa pengelola mulai melakukan beberapa kecurangan dalam bisnis. Pada akhirnya berakhir pada pemutusan hubungan kerja pengelolaan profesional dan seluruh kewenangan bisnis jatuh ke tangan anaknya.

Misalnya dengan tidak pernah melaporkan laporan bulanan yang sudah setiap bulan dibuat oleh pengelola, menambah dan mengurangi laporan keuangan yang sudah dibuat pengelola, menyalah sampaikan maksud dari kebijakan yang dibuat oleh pengelola dalam bisnis dan SDM, bahkan paling jahat bisa saja anak tsb menggunakan uang atas nama perusahaan padahal uangnya tidak digunakan untuk kepentingan bisnis. Tentu saja jika ayahnya menanyakan uangnya dipakai untuk apa, maka jawabannya atas instruksi pengelola. Bahayanya jika si bapak selama ini hanya menerima afirmasi dari si anak yang diberi kuasa kelola tapi tidak pernah mengkonfirmasi informasi tsb ke pengelola langsung. Akibatnya makin lama jelas saja pemilik usaha akan kehilangan kepercayaan kepada pengelola, sedangkan pihak pengelola jadi bingung sendiri kenapa sikap pemilik usaha makin hari makin negatif terhadap dirinya.

Kalau saja pemilik usaha mengkonfirmasi lebih dulu apakah semua informasi yang disampaikan oleh anaknya terkait kinerja pengelola di perusahaan benar adanya, maka mungkin tidak sampai pengelola diberhentikan tanpa diberi waktu untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Misalnya apakah betul pengelola tidak pernah membuat laporan bulanan, apakah betul tanggal sekian ada pengambilan tunai dr kas untuk keperluan ini, dll berdasarkan informasi yang diterima pemilik sepihak dari anaknya, apakah betul selama ini tidak pernah ada pembagian hasil usaha, apakah betul jika selama ini klien atau konsumen hanya didapat dari hasil kerja si anak. Bahkan jika perlu konfrontasikan langsung antara pengelola dan anaknya untuk kebenarannya.

Memang ujung ujungnya pasti orangtua tidak akan menjatuhkan anaknya secara langsung di depan orang lain diluar keluarganya. Itulah salah satu sisi kurangnya bisnis keluarga, apalagi jika pemilik usahanya adalah orang yang kurang bijaksana, maka segala keputusan hanya diputuskan di lingkar anggota keluarga dan yang punya suara terbesar baik benar ataupun benar tapi dibengkokan sehingga menjadi salah..ya tetap di pihak keluarga. Salah mendapat informasi, maka pemilik usaha akan salah mengambil keputusan.

Kesalahan ini kadang baru bisa disesali setelah beberapa waktu kemudian, pada saat tabiat jelek anaknya mulai terbuka, pada saat kinerja usaha tidak jadi lebih baik dibanding pada saat ditangani oleh pengelola yang sudah dipecat, pada saat ternyata jumlah tamu tidak bertambah bahkan cenderung makin  berkurang. Bisnis secara keseluruhan kenyataannya  cenderung berjalan mundur, bukannya makin membaik. 

Ada dasarnya kenapa seseorang bisa disebut pengelola atau bahkan konsultan, karena memang seharusnya dia memiliki skill kompetensi terbukti di bidang pengelolaan, misalnya sudah berpengalaman minimal 5 tahun di operasional cafe. Maka ada saatnya walaupun hanya 6 bulan ikut harian  operasional, belajar langsung dengan mengamati, lalu si anak memproklamirkan diri: mudah saja ternyata mengelola cafe kalau hanya seperti ini, saya juga bisa sendiri tanpa harus ada pengelola dari pihak luar. Padahal "jiwa" dari usaha cafe tsb sama sekali belum dimiliki si Anak.

Akhirnya karena memang belum matang dengan asam garam bisnis begitu ditimpa 2-3x masalah bisnis sudah limbung dan menyerah. Dia jelas tidak akan terlalu masalah karena toh ini uang bapaknya juga. Sedrastis apalah tindakan seorang bapak kepada anaknya yang gagal mengembalikan investasi bisnis buat dia, yah paling sebatas kecewa, selesai. Setelah itu akan dilupakan bahkan dipersiapkan dana lagi untuk pindah ke usaha berikutnya. Mengulang kembali kesalahan yang sama.

Tapi kegagalan mengelola bisnis bagi seorang pengelola profesional bisa sangat mengganggu pikiran. Selain nama baik kompetensi jadi rusak juga tanggung jawab moril terhadap bisnis yang sudah dipercayakan ke dia. Jauh beda mindset usaha yang diserah kelolakan kepada seorang pengelola profesional dan kepada seorang anak. Tapi penting juga dipahami bahwa tidak semua anak pengusaha memiliki mindset dan attitude seperti diatas dalam memandang bisnis keluarga. Banyak juga anak pengusaha yang betul betul amanah dan cerdas juga bijaksana mengelola bisnis yang dipercayakan keluarga kepadanya. Kalaupun dia belajar dari seorang pengelola atau konsultan, maka akan dipelajari sedalam dalamnya sampai mendapat jiwa dari bisnis itu sendiri dan itu butuh waktu yang tidak sebentar dan dia bersabar untuj jalani prosesnya. Jadi mungkin ini kebetulan Anda sedang bernasib kurang baik,  mendapatkan bisnis dengan partner yang belum rejeki Anda saja.

Tidak ada yang bisa saya  sampaikan selain tetaplah menjadi orang baik dan profesional yang kompeten. Rejeki datang darimana saja. Satu pintu tertutup, maka pintu lain bisa saja terbuka. Anda masih punya waktu dan kesempatan untuk memulihkan nama baik Anda. Percayalah pada Alloh SWT bahwa pada akhirnya kebenaran akan terlihat dan tetap harum dan yang mencelakakan Anda akan kena  karmanya.


SEMANGAT SUKES

(Mirza A.Muthi)

Minggu, 01 April 2018

Apa Pentingnya Billboard?



Ada pertanyaan dari pemilik usaha kuliner mengenai pentingnya memasang billboard merk logo di depan rukonya.

Billboard, plang merk, neonsign, neonbox, polesign, RGB panel, atau apapun namanya tergantung dari spesifikasi material dan bentuknya, adalah sangat penting bagi usaha Anda. Jika usaha Anda diibaratkan sebagai manusia, seorang karyawan di kantor,  maka hal tsb adalah "name tag" atau berupa papan kecil tertulis nama Anda, biasanya tersemat di dada. Kenapa Anda perlu menggunakan name tag tsb? Karena banyak rekan kerja belum mengenal atau kenal Anda. Sehingga kalaupun ada rekan kerja berpapasan dengan Anda, untuk menyapa atau sekedar tersenyum saja mereka enggan karena nama adalah "pembuka komunikasi". Bagaimana mereka mau menegur atau menyapa Anda sedangkan nama Anda saja mereka tidak tahu. Mau berkenalan dan bertanya nama Anda, nanti mereka pikir apa perlunya dia berkenalan dengan Anda? Sedangkan sebelumnya belum kenal. Bahkan ada yang berpikir, saya senior, harusnya Anda yang inisiatif mengenalkan diri terlebih dahulu, bukan saya. Lalu apakah kinerja dan komunikasi Anda mungkin bisa saja terganggu karena hal hal normatif seperti ini? Siapa yang harus mengawali sebuah komunikasi? 

Maka dalam sebuah usaha, nama usaha atau biasa kita sebut "merk" biasanya lengkap dengan logonya, tentu juga harus ditampilkan di depan. Pertama, merk ini berfungsi sebagai nama usaha. Pengenal identitas usaha Anda  diantara banyak usaha lain yang ada di kawasan tsb. Bahkan mungkin banyak usaha sejenis di kawasan tsb dan Anda pasti tidak mau tertukar informasi tentang lezatnya menu Anda dan bagusnya pelayanan ramah dari usaha Anda tertukar dengan usaha lain sejenis karena pelanggan Anda salah memberikan identitas toko Anda untuk kesaksiannya ke kawan kawannya. Anda dan team yang sudah bersusah payah bekerja dengan baik dan terencana, menyediakan produk terlezat dan memberikan pelayanan terbaik di kawasan tsb, maka penghargaan pelanggan dan segala credit benefitnya layak buat usaha Anda. Bukan salah sasaran ke usaha lain di samping ruko usaha Anda. Dalam pendaftaran patent merk pun ada ketentuan bahwa tidak boleh ada merk usaha sejenis yang sama karena pemilik nama merk harus memilih nama merk yang unik dan berbeda tapi mudah diucapkan dan diingat pelanggan. 

Maka merk usaha Anda harus jelas terpampang dan dilihat semua masyarakat bahkan diketahui luas baik terlihat, terbaca, tercetak, terdengar atau ter-publish viral via medsos. Maka dalam hal ini merk usaha Anda ini akan terpampang dalam bentuk papan, billboard, neon sign, neon box, pole sign, dsb. Bahkan jika cuma sekedar bentangan  spanduk saja karena menyesuaikan skala bisnis usaha Anda, yang penting jelas ada merk usaha Anda terpampang di depan unit ruko tempat Anda berusaha.

Merk usaha juga jadi identitas dalam mendesign dan mencetak marketing tools. Baik materi cetakan hardcopy, atau identitas di facebook, twitter, instagram, dll. Apalagi di era medsos saat ini, nama atau merk usaha Anda jadi identitas agar mudah dicari di google map. Lalu pada saat semua marketing tools dan medsos ini mengarahkan langkah tujuan pelanggan ke toko atau ruko Anda, apakah Anda akan membuat mereka ragu dan bingung dengan tidak adanya billboard atau plang nama yang terpampang jelas di depan usaha Anda? Jangan buat calon pelanggan ragu di kesan pertama. Bahkan jika billboard, neon sign, neon box toko Anda berperforma cukup bagus maka akan menggambarkan "kelas usaha" Anda langsung pada kunjungan pertama. 

Bahkan dalam posisi penempatan seringkali untuk langsung eye catching traffic lalu lintas di jalan, dipasang polesign yang posisinya melintang jalan, terlihat dari 2 arah lalu lintas. Di Jakarta ini lalu lintas sangat padat dan macet. Jika mobil calon pelanggan sampai terlewat dari toko Anda karena tidak jelas dimana posisi toko Anda, maka untuk memutar balik belum tentu terjadi. Bisa jadi mereka memilih mencari toko lain yang sejenis produknya untuk lebih praktisnya. Maka jika bisa lebih baik merk toko atau usaha Anda sudah terlihat minimal dari 10 m sebelum mobil/ motor calon pelanggan tiba di posisi Anda, sehingga mereka bisa bersiap memperlambat laju untuk mengambil posisi belok ke parkiran toko Anda. Sedemikian pentingnya billboard atau papan merk toko usaha Anda terpampang jelas di depan toko. 

SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)