Minggu, 07 Maret 2021

Percaya Awal Komunikasi Harmonis


Manager sebuah resto berkeluh kesah bahwa Owner seperti kurang percaya kepadanya. Tugas utamanya adalah memastikan bisnis resto secara operasional aman, efektif , efesien dan menghasilkan profit. Tapi sampai urusan minta uang untuk belanja garam saja harus tunggu owner datang untuk tandatangan. Urusan dimana harus belanja juga harus di toko/supplier yang sudah disepakati awal, tidak peduli bahwa ini belanja urgent hanya untuk menutupi ketiadaan bahan baku menu yang diorder tamu. Urusan reward punishment karyawan harus sepersetujuan owner, padahal owner tidak mengalami keseharian operasional di resto, dan banyak lagi. Padahal jika hasil operasional tidak memenuhi untuk membayar gaji atau biaya operasional, pasti manager yang harus sepenuhnya bertanggung jawab tanpa mau tahu kendala lapangan. Manager merasa sama sekali tidak ada kepercayaan dan wewenang sebagai manager selain hanya boneka dan bumper jika ada masalah.


Dalam posisi seperti ini pasti komunikasi antara owner dan manager tidak berjalan dengan seimbang dan adil sesuai porsi hak dan kewajiban. Pada dasarnya Manager, Owner, Investor dan team manajemen maupun team operasional kerja resto adalah satu team yang sinergi. Jika semua paham tugas dan haknya maka komunikasi akan berjalan dengan harmonis dan menciptakan sinergi yang dibutuhkan ini. Komunikasi yang seimbang harus didasari oleh kepercayaan sesuai posisi dan porsi masing masing. Owner misalnya merekrut Manager karena beliau tidak bisa kerja sendiri langsung mengelola bisnis restonya. Tapi Owner harus memberikan kepercayaan kepada Manager untuk mengelola team work dan asset bisnisnya setelah sebelumnya sama sama menyepakati batasan hak dan tanggung jawab masing masing pihak. Di atas Owner ada boss yang sesungguhnya, yaitu pelanggan. Pelanggan kecewa dan menghilang maka bisnis juga akan hilang. Hendaknya aturan main tsb juga harus ada toleransi untuk hal hal urgent demi tujuan kepuasan pelanggan. Zero customer Complain dan Perfect customer Satisfaction adalah tujuan utama. Jadi tujuan tsb yang harus sama sama diutamakan oleh Owner dan Manager sebagai parameter jika suatu waktu ada misscommunication diantara mereka. 

Maka untuk Owner betul betul bisa mempercayai Managernya bisa sebelumnya pada sesi perekrutan harus dipenuhi beberapa kriteria skill baik managerial maupun pengalaman. Juga penting rekomendasi dari beberapa relasi Manager di tempat kerja sebelumnya. Tentu saja setiap Manager juga ada harga sesuai kapasitas dan value yang diyakini dimilikinya. Jika tidak bisa mendapatkan Manager yang betul betul bervalue tinggi dan bergaji tinggi, maka owner juga harus berdamai dengan misalnya Manager level 2 yang masih bisa dipercaya untuk bisa menangani bisnis restonya. Walaupun demikian setiap Manager apapun kelas/levelnya tetap punya standard harga diri dalam bekerja. Jika setiap langkah dan keputusannya terus dikoreksi oleh Owner maka mungkin Manager tidak bisa mengembangkan otoritasnya dengan optimal kepada team dan berakhir dengan tidak bersedianya dikenai tanggung jawab penilaian kinerja (KPI) oleh Owner karena merasa tindakan dan keputusan yang selama ini dieksekusi di lapangan adalah bukan keputusannya melainkan instruksi langsung dari Owner. Dengan kata lain Manager resto hanya menjadi boneka atau asisten dari Owner dan tidak berfungsi managerial seperti seharusnya. Dalam situasi ini Owner akan merugi karena gaji manager tetap harus dibayar dan seluruh fokus konsentrasi mengelola management dan asset resto harus dipikirkannya sendiri. Dipastikan juga Manager tidak akan betah berlama lama kerja dalam situasi iklim hubungan kerja yang seperti ini. Maka ini akan jadi salah satu penyebab mengapa sebuah outlet resto seringkali tidak berumur panjang sejak pertama kali dibuka, karena tidak pernah menemukan Manager yang betah bertahan lama kerja disana. Antara Owner dan Manager tidak pernah terjadi komunikasi harmonis dan seimbang porsinya. Apalagi jika Manager dan Owner berkarakter sama sama keras.

Demikian kira kira yang bisa disampaikan memgenai curahan hati dari Manager yang sedang menghadapi masalah disharmonisasi komunikasi dengan Ownernya. Yang terpenting jika akhirnya Owner betul betul memberi kepercayaan penuh secara otoritas keputusan dan tindakan, maka Manager harus bisa membuktikan kapasitasnya dan menjaga kepercayaan Owner dengan integritas kejujuran, kerja keras dan hasil profit usaha yang optimal dan membuat semua stake holders happy termasuk tentunya boss utama yaitu pelanggan. 
 
 
SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)


Rabu, 10 Februari 2021

Prioritas di Bisnis Konveksi


Konveksi merupakan bisnis yang mendukung industri fashion secara keseluruhan. Untuk produk yang sudah fixed design dan tinggal diproduksi untuk mengejar quantity (jumlah) dan harus tetap menjaga quality (mutu), maka sektor produksi yang meliputi Sumber Daya Manusia/ mitra penjahit, alat alat produksi dan ketersediaan bahan menjadi prioritas. Harus ada manajemen produksi yang kuat dan sinkron dengan target penjualan/ request order. Untuk alat produksi tentu bisa saja diusahakan dengan kredit dari Bank Kovensional atau skema kredit usaha baik dari Bank Syariah. Lebih mudah lagi jika sudah memiliki Purchase Order/ Request Order  atau memiliki produk brand yang demandnya tinggi dibuktikan dengan catatan penjualan dan aktifitas feed back marketing sales. Alat/equipment kerja tidak terlalu sulit diatur asalkan sudah memiliki pakem bahwa minimal 10% dari pendapatan bulanan harus dialokasikan untuk pemeliharaan alat dan cadangan peremajaan peralatan karena alat2 bisnis konveksi juga termasuk cepat perkembangan teknologinya. Makin maju teknologi, makin cepat kerjanya, makin prima hasilnya dan makin tinggi kapasitas produksinya. Juga perlu memiliki beberapa pekerja yang betul betul ahli untuk menangani setiap jenis peralatan mulai dari aplikasi pekerjaan sampai ke problem solvingnya jika ada kendala. Lalu ini harus diajarkan ke pekerja lainnya untuk standarisasi sklill pemahaman alat kerja.

Mengenai urusan SDM untuk kelas pekerjaan seperti ini sungguh tidak mudah. Walaupun secara pendidikan formal mungkin rendah tapi mereka termasuk dalam golongan kerja dengan skill khusus/ trampil, dan itu tidak banyak jumlahnya. Mereka lebih berpikir kebutuhan  sepihak dan tidak berpikir secara target perusahaan. Tapi kita juga tidak bisa semena mena memberi punishment kepada mereka jika sewaktu waktu ada hal yang sedikit banyak merugikan perusahaan baik dari segi jumlah target kuota produksi ataupun nama baik perusahaan mempertanggung jawabkan bisnis jangka panjang. Maka penting bagi perusahaan untuk memiliki cadangan tenaga kerja trampil jahit sebanyak mungkin. 

Memang lebih baik jika perusahaan bisa menjaga ketersediaan pekerja trampil ini dengan skema gaji tetap bulanan, tapi jika baru awal mungkin akan berat bagi perusahaan sementara pemasukan masih belum cukup. Sampai perusahaan sudah cukup kuat cash flow dan pemasukannya maka opsi komisi based in qty unit hasil kerja per project untuk setiap pekerja trampil mungkin pilihan paling win win. Sebagai backup paling tidak kontak perusahaan harus ada di jaringan pekerja trampil jahit di kawasan dimana pabrik konveksi kita berdomisili agar begitu kita butuh backup atau pengganti, tidak lama kita bisa aegera dapat sebelum sempat mengganggu jalannya produksi. Juga harus dijaga image kenyamanan kerja di perusahaan konveksi Anda di kalangan komunitas pekerja trampil jahit tsb, sehingga jika perusahaan sedang butuh tidak akan ada calon pekerja yang reject untuk dipekerjakan walaupun untuk  sementara.

Lalu jika perusahaan sudah memiliki produk dengan brand sendiri tinggal dijaga apa saja yang menjadi "kesenangan" dari calon pembeli. Apakah kenyamanan bahannya sudah pas, style potongan polanya sudah cocok, bagaimana pilihan kombinasi warnanya, kerapihan mutu jahitnya, dan perlu dicari apa thematic design / konten tulisan yang pas sesuai segmen yang mau ditempelkan di produk sebagai pemanis. Jika bukan kemeja/kaos polos maka perlu dipikirkan betul apa gambar/tulisan yang akan tercetak. Jangan salah mungkin lebih 50% keputusan orang membeli fashion karena suka dan pas dengan tulisan atau gambar yang tercetak di depan kemeja/kaosnya, bukan karena model atau bahannya. Jadi perlu penanganan sendiri mengenai copy writer/designer sendiri mengenai konten apa yang akan dicetak di media baju/kemeja ini. Pettimbangannya bisa mulai dari thematic per design, misalnya jika ingin buat kaos motivasi maka perlu dikumpulkan quote2 motivasi yang kalimatnya tetap keren dan gaul. Atau thematic gambar wayang series, dikumpulkan versi gambar wayang baik dari wayang kulit sampai wayang seni modern. Jangan lupa mengenai hak cipta bisa menimbulkan masalah besar. Lebih baik jika gambar yang digunakan adalah produksi dari designer perusahaan sendiri dan jangan menggunakan gambar/foto pihak luar kecuali sudah dibereskan dulu masalah hak ciptanya. Demikian prioritas yang harus diperhatikan mengenai usaha konveksi. 
 
SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)

Senin, 25 Januari 2021

Investasi Resto di Masa Pandemic


Pengusaha resto mengeluh masalah outlet outlet mereka yang tidak bisa operasional optimal di Mall mall karena PSBB. Jam kunjungan pelanggan dibatasi, kapasitas ruang dibatasi, sementara karyawan tetap harus digaji, service charge tetap harus dibayar dan sederet pembatasan lain membuat bisnis resto tidak bisa berjalan normal sesuai rencana investasi.

Lalu ini membuat pengusaha meninjau ulang model bisnis dan rencana investasi di outlet berikutnya. Kira kira apa yang sebaiknya dilakukan?

Pandemic ini tidak jelas kapan akan berakhirnya. Apakah akhir tahun 2021 ini atau masih bisa lebih panjang lagi? Kalaupun pengusaha menunggu situasi tidak pasti ini terlalu lama maka bisnis tidak akan pernah dimulai dan perputaran uang tidak terjadi dalam jangka waktu yang lama. Padahal pemgusaha masih punya kewajiban yangbharus dibiayai setiap bulannya. Maka tetap memiliki penghasilan rutin walaupun pasti tidak mungkin sebesar situasi bisnis normal tetap harus diusahakan. Disini kita harus bersiasat merubah model bisnis baik dari skala investasi, skala besaran outlet, kapasitas produksi dan target konsumen. 

Kembali di fitrah dagang bahwa sediakan apa yang konsumen mau, bukan membuat apa yang pengusaha mau karena gengsi dan harga diri. Karena jika pembeli tetap saja tidak bisa membeli/membayar harga produk yang kita tawarkan, maka bisnis tidak akan terjadi. Saat ini di kalangan pembeli ada urgensi yang harus dilakukan sbb;
1. Merubah pola makan minum dari untuk jajan/pergaulan menjadi makan minum sebagai kebutuhan makan utama sehari hari
2. Tidak pergi jauh jauh untuk beli makanan.  Jika ada resto yang dekat dengan rumah atau tempat aktifitas sudah lebih dipilih daripada harus makan di resto yang jauh
3. Lebih baik makanan bisa dikirim. Apabila bisa dikirim atau diantar ke rumah atau tempat aktifitas akan lebih baik.
4. Makan bersama keluarga akan lebih sering dibanding makan diluar bersama relasi, kawan seperti biasanya pergaulan dan sosialisi di masa lalu
5. Kalau bisa makanan tetap bermutu dan tetap banyak varian tapi harga lebih murah. "Rekreasi rasa" tetap harus ada tapi dengan budget yang  lebih murah.
Maka saat ini sebaiknya outlet resto yang harus disediakan juga harus bisa mengadopsi perubahan kebutuhan dan kebiasaan para pelanggan resto dengan keterbatasan modal investasi dan pengendalian resiko bisnis yang lebih aman.

Perubahan model bisnis yang bisa dilakukan adalah sbb;
1. Lebih baik investasi di konter/booth atau resto dengan ukuran kios dibanding ruko atau sewa space mall. Investasi untuk POS yang ukuran lebih kecil dan budget lebih kecil. Resiko investasi bisa dikurangi sekaligus potensi bisnis bisa lebih besar karena sebaran outletnya lebih luas.
2. Sebar lokasi pengembangan kios konter booth ini ke wilayah wilayah potensial target market outlet terkait. Dari setiap outlet jika bisa menjaring pembeli walaupun omzetnya tidak mungkin sebesar resto bonafid tapi ini berkonsep "sedikit omzet x banyak kios". Dibanding sedikit omzet karena pengunjung resto dibatasi dan daya beli sedang menurun maka lebih baik
3. Harga menu makanan di kios ini bisa dibuat lebih murah agar lebih terjangkau dibeli kalangan konsumen yang lebih luas mensiasati juga daya beli situasi saat ini. Kenyataannya banyak orang ingin beli produk tsb tapi karena terkendala harga yang mahal jadi tidak bisa membeli. Dengan adanya turunan produk yang lebih terjangkau maka akan memperluas jangkauan bisnis.
4. Agar tidak membias image brand, maka di situasi pandemic ini bisa dibuat brand turunan. Untuk membedakan produk dengan penyesuaian antara resto dan konter/ booth, penyesuaian harga, delivery service dsb. Misal "Makanku" untuk resto dan "Makanku Toko" untuk konter dan "Makanku express" untuk booth. Jadi walaupun dibedakan tetap tidak merusak image masing masing type outlet dan harga produk dan pelanggan tidak bingung.
5. Buat paket porsi untuk harian, misal kalender menu 30 hari dengan kombinasi 3-4 jenis menu dari makanan utama, menu pelengkap, sayur, sampai buah penutup. Untuk mempermudah pelanggan memutuskan pemilihan menu apa yang harus dibeli. Banyak orang terutama para pria tidak paham padu padan jenis menu yang cocok dimakan dalam satu sesi makan. Padahal jika kombinasi padu padan menu tidak cocok bisa merusak keseluruhan kesan makan. Makin mudah pemilihan jenis paket porsi makin besar kemungkinan penawaran terjual.
6. Mengantisipasi golongan umur pelanggan yang bisa jauh gapnya, bisa dibuatkan penawaran menu paket untuk anak tumbuh kembang,  paket untuk lansia, paket menu vegetarian, paket menu untuk kebutuhan on demand lainnya. Mengerti memahami kebutuhan pelanggan adalah kunci sukses bisnis.
Demikian sedikit insight perubahan model strategi investasi bisnis kuliner dalam menyiasati situasi dan kondisi pandemic. Kita memang tidak bisa sama sekali stop berbisnis kuliner tapi bisa mengecilkan ukurannya , mengurangi harganya dan menyebar penempatannya agar bisnis tetap berjalan dan bisa diserap target pasar.
 
 
SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)

Minggu, 20 Desember 2020

Kemasan Sebagai Marketing


Beberapa pertanyaan tentang salah satu kelemahan UMKM yaitu kurang mendayagunakan kemasan sebagai kekuatan marketing produk. Misalnya kripik pisangnya memang terbukti enak, gurih renyah dan asin manisnya pas. Dikemas hanya dalam kantong plastik transparan yang simple lalu ditempel stiker brand/merk dengan design sederhana. Banyak tetangga sekitar suka rasanya, tapi..kenapa susah sekali berkembang pasarnya ke wilayah pasar yang lebih luas? Salah satu penyebabnya yang krusial adalah kemasan. Bagaimanapun pada saat produk didisplay atau ditampilkan di foto, pertama kali yang dilihat orang adalah kemasannya. Jadi kesan pertama adalah kemasan. Dari kemasan bisa dikesankan "semewah" apa produk yang ada di dalamnya. Kemewahan rasanya, kemewahan renyahnya, keamanan kebersihannya, kebersihan proses produksinya, keprofesionalan produsennya, semua bisa tercermin dari kemasan.  Kemasan yang lebih profesional juga pasti akan lebih mudah diterima di jalur penjualan jaringan resmi seperti supermarket ataupun market place.


Kemasan untuk snack misalnya biasanya terbuat dari kantong plastik, bisa berbentuk kantong biasa umumnya atau plastik yang lebih tebal bentuk pouch yang bisa berdiri dan ada klip buka tutup diatasnya atau kantong alumunium foil. Ukurannya terbagi dalam beberapa kapasitas gram yang akan memberikan opsi beberapa harga jual. Maka tentu saja fungsi utama kemasan adalah menjaga agar snack tsb tetap sehat dan aman, kerenyahan, tekstur dan rasa panganannya tetap tidak berubah mulai saat lepas dari proses produksi sampai di tangan konsumen dalam jangka waktu tertentu sesuai konten snack yang ada di dalamnya.

Lalu apa yang tercetak pada kemasan tsb yang akan menjadi kekuatan Kemasan Snack yang profesional adalah;
1. Tercetak ingredient/kandungan bahan baku snack dan kandungan gizi. Ini penting agar konsumen jelas bahwa apa yang dimakannya aman , sehat dan terpenting halal.
2. Tercetak kapasitas berapa gram isinya,  tanggal produksi dan kadaluarsa. Buat makanan ini penting agar konsumen terlindungi dari makan makanan yang sudah tidak layak konsumsi yang mungkin bisa berdampak jelek bagi kesehatannya. Informasi ini juga sebagai bentuk tanggung jawab produsen kapada konsumen.
3. Tercetak brand logo maupun tagline. Brand sangat penting sebagai identitas produk. Membedakan produk A dengan produk B yang sejenis. Brand yang sudah dikenal luas akan jadi nilai utama /value bisnis dari produk itu sendiri. Bisa jadi produknya  sama yaitu kripik pisang. Tapi konsumen rela membeli produk A dengan harga lebih mahal daripada produk B dengan gram kapasitas yang sama dengan value brandnya berbeda. 
4. Tercetak juga alamat produsen. Dimana snack ini diproduksi juga dilengkapi dengan nomor hotline yang bisa dihubungi. Ada nomor sertifikasi BPOM dan jika dijual di Indonesia biasanya dilengkapi stempel sertifikasi halal. Bahwa produsen yang bertanggung jawab harus secara terbuka menjelaskan kepada konsumennya bahwa produk ini dibuat oleh produsen yang jelas  dengan standard kesehatan dan produksi yang sudah tersertifikasi.
5. Untuk kekuatan marketing secara batch produksi, kadang produsen juga mencetak item marketing misalnya ada foto artis brand ambassador, program promo seasonal dengan foto hadiahnya, bahkan secara design kemasan bisa dibuat secara serial agar konsumen bisa mengumpulkan satu set seri kemasan tertentu sebagai syarat season sayembara.
6. Untuk produk snack bisnis UMKM yang marketnya disasar secara direct ritel, tanpa menggunakan jalur distributor maka kemasan juga harus menjadi media perluasan jangkauan pasar. Cantumkan nomor telp/WA yang bisa dihubungi untuk order, alamat ig dan facebook untuk promosi. Sehingga jika konsumen pertama suka akan rasa snack tsb maka dia bisa langsung memeriksa kemasan untuk mencari informasi kemana bisa dihubungi untuk pemesanan.
7. Jika produk ini pernah mendapat penghargaan misal sebagai produk terlaris atau produk yang tersertifikasi atau pernah menjadi sponsor resmi event besar, dan semacamnya, maka informasi tsb juga perlu ditampilkan di kemasan sebagai kekuatan produk dan brand. Kelebihannya dibanding produk lain sejenis yang perlu diinformasikan kepada konsumen.
8. Secara kolektif dan sinergi, keseluruhan konten yang dicetak di kemasan tsb harus didesign dalam satu template design yang menarik baik dari segi layout, jenis font dan size font, foto foto, warna identitas dan warna warna pendukung sehingga dalam 2-3 detik konsumen melihat kemasan produk tsb maka semua nilai nilai keunggulan produk yang diharapkan bisa disampaikan produsen kepada calon pembeli bisa terwakili di kemasan tsb.
Demikian pentingnya kemasan dalam bisnis snack/panganan bagi UMKM agar dapat lebih profesional dan lebih cepat mendapatkan respond pasar yang lebih luas.


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza Amrullah Muthi)

Rabu, 04 November 2020

Apa Bisnis Yang Cuma Satu Satunya?


Sebetulnya bisnis/ usaha apa yang betul betul baru atau tidak ada pesaingnya saat ini? Mengapa ada bisnis sejenis tapi yang satu hidup berjaya, yang lain biasa saja, satu lagi bahkan bisa kalah bersaing lalu tutup? Apa sebetulnya yang membedakan padahal produknya sama sama itu juga?

Jika produknya sama tapi hasilnya beda, anggap saja hasil ini juga diluar masalah lokasi, tentu yang membedakan adalah pengelolaannya. Baik secara manajemen operasional, pengelolaan SDM, strategi marketingnya, sampai pengambilan keputusan keputusan pentingnya. 
Sama seperti orang masak soto. Akhir menunya sama namanya soto, tapi rasa sotonya bisa beda beda. Ada yang pantas untuk dijual, ada yang cukup hanya untuk dimakan sendiri di rumah. Mulai dari kesegaran bahan bakunya, peracikan aneka bumbunya, cara masaknya, aneka condimennya, sampai penataannya yang bisa membuat beda rasa lidah beda rasa mata maka bisa beda harga dan bisa beda nasib.

Rasanya sangat sedikit bisnis yang hanya satu satunya. Biasanya sudah banyak duanya, tiganya bahkan belasan puluhan semacam tsb. Sekarang ini banyak startup yang merupakan konsep development dengan system IT, itupun diperkaya dari bisnis konvensional yang sudah ada. Intinya jika ingin menang bersaing maka Anda harus cerdas dan menghubungkan sebanyak mungkin kebutuhan yang terkoneksi dalam satu platform bisnis. Dengan system IT maka kemungkinan ini bisa terjadi. Pembeli atau pengguna merasa segala sesuatunya jadi lebih praktis dan lebih mudah. Apalagi jika cukup diakses dengan HP smartphone yang dalam genggaman. Jika kembali lagi ke konsep dagang konvensional, itupun masih banyak pelaku dagang yang hanya tahu produksi dan jual "apa adanya". Maksudnya hanya buka pagi , jualan tunggu pelanggan datang , melayani dan malam tutup. Melayani pun cuma pakai kaos, tidak senyum dan tidak ramah, tidak ada kesan yang dibawa pulang oleh pembeli bahwa abang penjualnya adalah salah satu hal menarik lainnya di kios tsb selain rasa makanannya. Abang penjualnya melayani apa adanya seolah olah pembeli dan pelangganlah yang butuh penjual. Bukan sebaliknya. 
Setiap hari hanya membuka kios lalu cukup duduk menunggu pelanggan datang. Tidak ada upaya aktif menarik konsumen. Tidak ada upaya marketing, tidak pernah melempar promo menarik, belum pernah bekerjasama dengan pihak lain dengan win win skema. Dapat berapa hari ini ya sudah disyukuri dan diterima tanpa berpikir apa besok saya masih ada konsumen. Melayani dan menjalankan cara dagang dengan apa adanya dengan keyakinan bahwa selesai membeli hari ini maka besok pasti pelanggan akan datang lagi untuk membeli. Padahal keyakinan buta inilah yang akan menjerumuskan penjual ke dalam jurang kegagalan dagang.

Maka sebetulnya bukan kita harus repot dan pusing mencari apa bisnis yang betul betul satu satunya dan tidak ada pesaing. Kalau begitu nanti Anda tidak akan mulai mulai usaha atau berdagang. Seperti gambaran soto diatas..mungkin Anda sama sama menjual soto dengan kios tetangga sebelah. Tapi perbaiki di bumbu rasa, penyajian, keramahan pelayanan, kerajinan untuk marketing, kreatif untuk promo, cerdas untuk bekerja sama win win, amanah menjaga pelanggan loyal, jika mungkin pikirkan sampai ke arah masa depannya mungkin bisnis ini nanti bisa dikonsep franchise atau business opprtunity. Dagang boleh sama, tapi hasilnya bisa berbeda. Tergantung dari siapa yang melaksanakan usaha tsb, secara cerdas atau cukup apa adanya saja. Jika bisa kelola dagang atau usaha secara lebih smart, customer satisfaction dan terukur terencana, itu baru namanya berbisnis.


SEMANGAT SUKSES 

(Mirza Amrullah Muthi)

Sabtu, 24 Oktober 2020

Proses vs Hasil


 Me-refer pada *Resume Kajian MQ Pagi* 5 September 2020 M  berjudul *Supaya Mudah Bersabar* dari KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang di akhir tausyahnya membahas Proses vs Hasil

 Ada yang bertanya, bagaimana cara kita senang dalam beramal atau sabar ketika menghadapi kesulitan? Itulah menu utama dari Proses, yaitu sabar. Bagi kita yang penting itu adalah proses, bukan hasil. Hasil itu Allah Ta'ala yang menentukan, tapi proses niat yang baik, ikhtiar yang maksimal, itu yang harus kita nikmati. "Hasil itu bonus, rezeki kita adalah proses. Orang yang sabar orientasinya menikmati proses, bukan menikmati hasil." , demikian Aa Gym. Proses memberikan kita ilmu dan pengalaman. Pengalaman baik ataupun buruk akan memperkaya kemampuan kita dalam berikhtiar. Dan yang penting sabar kita dalam menjalankan proses kita ini akan dicatat sebagai amal Sholeh.

 Hanya saja kebanyakan dari kita selalu melihat hasil daripada proses. Ibu paruh baya mencuri selop sosialita di rumah warga pada saat ada acara, ketahuan dan digebuki oleh massa. Hasilnya tewas mengenaskan sia sia di jalanan. Dicaci maki "dasar ibu tua gak insaf insaf maling sepatu..rasain..cuih..!" . Padahal mereka tidak tahu prosesnya adalah beliau dan 2 anaknya sudah tidak makan 3 hari dan akhirnya terdorong rasa lapar yang kuat mencuri selop ibu tamu untuk dijual ke loak sekedar membeli beras. Tidak ada yang peduli dengan rasa laparnya dan naluri keibuannya memberi makan bagi kedua anaknya. Mengenaskan.

Karyawan di eselon yang sama, bapak yang satu sederhana dengan mobil keluarga biasa, berpakaian wajar pasti lebih kurang pandangan penghormatan kawan dan relasinya, dibanding si bapak yang mentereng jas dan kemejanya lengkap dengan cincin berlian. Datang ke acara makan malam dengan mercy eksklusif ditemani istrinya yang glamour. Hasil penampilannya jelas terlihat beda. Tapi ternyata bapak yang satu berproses dengan sabar , menahan diri dan hidup hemat secukupnya, sedang bapak tajir berproses dengan korupsi, manipulasi, intimidasi dan "fee"kinisasi. Pokoknya semua melihat hasil bahwa bapak tajir ini sangat melintir suksesnya dan sempurna hidupnya. Semua orang mau jadi seperti dia. Lalu saat covid 19 melanda, bisnis shutdown dan semua kesenangan berubah, sang istri yang biasa hidup mewah mulai gelisah, tidak terima dengan berkurangnya standard kenikmatan hidup, lalu menggugat cerai suami miskin barunya. Itulah hasil dari tidak sabar terhadap proses.

Dari beberapa orang anak ada 1 anak yang paling gelisah proses hidupnya. Ekonominya naik turun, maunya kerja sendiri atau jadi pengusaha dibanding jadi karyawan yang aman tentram dengan kepastian gaji bulanan. Padahal idealisme itu adalah proses bathin yang kuat bahwa hidup harus memberi manfaat bagi banyak orang, bisa membuka lapangan kerja bagi beberapa keluarga, dibanding cuma aman nyaman hidup sendiri yang lain bukan urusan saya. Sampai 1 anak itu dipandang sebagai hasil anak gagal yang banyak hutangnya, padahal itu adalah proses dalam hidupnya yang berusaha sementara bertahan memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus meminta orang tua dan adik adiknya. Sudah mahal mahal dikuliahkan tapi tidak diberi uang beli buku sehingga terpaksa fotocopy banyak sekali mengingat jaman tsb belum ada internet dan google untuk mencati referensi gratis dan kuliah harus punya buku, sekalipun hanya fotocopyan yang dibeli dengan cara berhutang. Belum lagi terpaksa  berhutang untuk bertahan hidup keluarga karena memang belum memiliki pekerjaan selepas diPHK semasa krisis ekonomi karena bantuan BLT orangtua yang diberikan setiap minggu sangat jauh dari kebutuhan standard minimal. Yang selalu disampaikan adalah..sudah disekolahkan paling tinggi tapi hutangnya juga paling banyak. Pokoknya berhutang...tidak mau tahu alasan kenapa dia berhutang. Paling merepotkan karena keluarga besar harus menanggung dampak dan keluar uang terus untuk menutupi hutang. Padahal si anak hanya berusaha bertahan kalau bisa tanpa harus merepotkan keluarga besar. Mungkin nanti dalam prosesnya dia masih sempat membereskan hutang hutangnya dari kekuatan sendiri. Tapi tidak semua sanggup sabar dalam menjalani proses panjang. Pandangan orangtua kepada anak berdasarkan pengamatan hasil bukan pendalaman proses. 

Proses juga butuh daya tahan dalam menghadapi beraneka macam ujian. Ujian hidup ini yang akan membentuk karakter pada seseorang dibanding mereka yang hidupnya cenderung stagnan dan nyaman. Mereka yang matang ditempa proses biasanya lebih sabar, rendah hati walaupun dihina oleh bahkan saudaranya sendiri, juga tidak mudah memandang sikap pada orang lain tanpa menganalisa prosesnya, sehingga ibu paruh baya yang di perayaan undangan tadi tidak jadi gugur kalau ketemu orang yang paham akan proses. Mungkin malah si ibu akan diberikan pekerjaan olehnya dan berproses untuk kesempatan hidup lebih baik selanjutnya. Sudut pandang beda maka hasil tindakannya juga akan beda. Proses membutuhkan daya tahan, tidak semua orang paham makna sebuah proses dan bisa tahan menjalani panjang dan lamanya sebuah proses sampai berhasil. Tapi hasil adalah upah, upah bisa instant seperti dagang, buka lapak pagi lalu sore nanti sudah ada uang. Karyawan mendapatkan hasil dengan terima gaji..Tapi ada juga pengusaha yang butuh bertahun tahun kembali modal sebelum mendapatkan hasil keuntungan, yang itulah dinamakan proses yang membawa hasil. 

Semua usaha harusnya bisa membawa hasil, terlepas memuaskan atau kurang memuaskan atau bahkan belum berhasil. Tapi dari setiap proses kita selalu dapat pelajaran. Apakah pelajaran baik atau pengalaman buruk yang tidak boleh diulang. Dalam hasil , buruk ya jelek dan sukses ya bagus. Tapi dalam proses, baik dan buruk sama berharganya. 

 

SEMANGAT SUKSES 

(Mirza A.Muthi)

 

Senin, 07 September 2020

KAWAN SEJATI ADALAH ASSET BERHARGA


Banyak yang cerita kepada saya bahwa disaat sulit seperti ini, mendapatkan pertolongan, khususnya bantuan financial dari seorang kawan, rasanya seperti minum embun segar setelah kemarau panjang. Senang dan haru rasanya masih ada kawan lama yang baik dan memberikan empatinya secara nyata. Di saat ekonomi sangat sulit seperti ini, bantuan yang sebetulnya tidak terlalu besar ini dirasakan sangat berarti, lebih dari nilai uangnya juga sangat membesarkan hati. Bagaimana hal ini bisa sangat menggetarkan hati?

Seperti kita alami, selama pandemic COVID-19 ini banyak "orang miskin baru". Para manager yang tadinya bergaji 15 juta keatas yang biasanya cukup aman dan stabil keuangannya mendadak di PHK. Angsuran rumah dan mobil mendadak macet dan menimbulkan kepanikan financial yang luar biasa. Melepas asset dan merubah gaya hidup wajib dilakukan agar bisa bertahan. Begitupun tetap saja hanya bisa bertahan 2-3 bulan sementara situasi krisis ekonomi masih berlangsung. Pada saat ini mereka yang biasa membuang Rp. 1 juta dalam semalam sudah merasakan sangat berartinya masih bisa mendapat uang Rp. 100.000 saja walaupun itu dari pinjaman seorang kawan. Karena di saat ini mencari pinjaman / hutangan dari pribadi juga sudah susah luar biasa. Jarang sekali ada orang yang berani meminjamkan uang karena semua sedang menyimpan dana yang dimilikinya untuk persiapan krisis panjang. Maka jika masih ada kawan yang bersedia, bahkan menawarkan bantuan, rasanya sangat berarti sekali dan pasti rasa syukur  akan terpatri di hati dan rasa terimakasih pada kawan baik tsb, teringat di pikiran sampai kapanpun.

Anda seharusnya mulai banyak mendapat hikmah dari situasi ini, bahwa kawan baik adalah asset berharga. Pada situasi sulit ini akan terlihat mana kawan sejati, mana kawan yang hanya sebagai penggembira dalam perjalanan hidup Anda. Memang kita tidak bisa juga mendeskreditkan kawan lain karena situasi krisis sedang umum terjadi. Tapi Anda perlu tahu justru saat seperti ini memutuskan untuk bisa berbagi dengan orang lain yang tidak ada hubungan darah keluarga adalah keputusan yang sangat sulit.  Jangankan untuk berbagi, menjaga uang untuk persediaan keluarga sendiri saja sebetulnya kita semua sudah harus maklum. Masing masing kita memang harusnya bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Tapi bersyukurlah, masih ada kawan kawan atau orang yang berprinsip: 

"Mudahkan orang lain, maka Alloh SWT  akan lebih memudahkan jalan hidupnya juga."

"Harta yang bisa dibawa mati adalah harta yang digunakan untuk membantu orang lain dan diamalkan sesuai ketentuan Alloh SWT dan seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW."

"Rezeki adalah Hak Prerogatif Alloh SWT. DIA memberi rezeki pada siapa saja yang dikehendakiNYA. Dari pintu yang tidak disangka sangka."

Memang jika dipikirkan secara nalar logika seperti tidak masuk akal. Memberi uang kemana mana disaat sulit tapi malah bisa menambah rezeki. Capek capek kerja untuk menghasilkan uang lebih baik dikumpulkan. Kalau uang yang sudah terkumpul lalu dikasih kasihkan ke orang lain ya lama lama bisa habis. Pemikiran tersebut sangat logis sekali dan secara matematika memang masuk akal. Tapi jangan lupa bahwa Alloh SWT yang memiliki bumi dan seisinya, termasuk kita dan takdir rezekinya masing masing. Alloh SWT adalah sutradara kejadian di bumi dan DIA yang Maha Kuasa membolak balik skenario hidup kita sebagai para pemain sandiwara hidup. Terpenting Alloh SWT sudah menggariskan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup, tinggal kita harus yakin dan percaya pada ketentuan pedoman hidup ini dan jalankan. Sebagai umat harusnya prinsip menjalankan hidup kita hanya satu: kami dengarkan dan kami taat. Maka perlu keiklasan, iman dan taqwa untuk bisa mengaplikasikan 'memberi tanpa ragu' ini. Maka bayangkan bagaimana kita ternyata masih bisa mempunyai kawan yang masih memiliki hati besar seperti ini dalam kehidupan kita dan kebetulan kawan baik ini memilih kita untuk kawan berbaginya. Berarti Alloh SWT juga sudah menunjuk nama Anda juga yang terbesit di hati dan pikiran kawan Anda yang baik ini, sebagai orang yang perlu dibantu.  Apa maksud Alloh SWT atas ketentuan ini?

Jika Anda masih bisa mendapat pinjaman dari kawan atau dari manapun dimasa sulit ini, itupun sudah rezeki. ALLOH SWT MASIH SAYANG PADA ANDA. Dan ingin Anda berubah di masa berikutnya. Jika Anda nanti bisa lepas dari situasi sulit ini, rubahlah sikap Anda terhadap harta. Jangan segan keluar uang untuk membantu kawan lain yang membutuhkan. Kadang yang membantu kita bukan kawan yang dulu kita pernah bantu, tapi datang dari kawan yang lain lagi. Rezeki bisa datang dalam lingkaran energi positif diantara kawan kawan yang kita kenal atau memang orang orang yang dipertemukan oleh skenario Alloh SWT. Berkawanlah dalam kebaikan dan saling tolong menolong sesama kalian, karena kawan baik adalah asset dan rezeki yang diturunkan Alloh SWT pada kalian. Sebagaimana Alloh SWT memilihkan sahabat sahabat Nabi Muhammad SAW yang iklas, gagah berani menyertai Nabi Besar dalam misi syiar Islam di Makkah dan Madinah dalam situasi yang berat dan penuh perjuangan dengan pengorbanan lahir bathin. Hanya sahabat sejati yang secara iklas dan loyal berani menemani perjuangan Nabi Besar Muhammad SAW. Berkawan dan berserikat menjalani kehidupan dan perjuangan sudah menjadi fitrah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Maka carilah kawan yang banyak. Berkawan bisa dengan siapa saja. Tapi plihlah kawan kawan yang baik dan hanya yang bisa berguna bagi hidup Anda ke arah yang lurus dan baik. Hindari jauh jauh kawan kawan yang bisa membawa Anda pada kebathilan dan memberikan mudharat. Jangan sampai terjerumus. Nantinya diantara kawan kawan baik akan ada kawan yang Alloh SWT pilihkan dan kirimkan untuk Anda dan datang sendiri pada waktunya sebagai jodoh kawan sejati. 

KAWAN SEJATI ADALAH YANG BERSEDIA DATANG PADA SAAT ANDA KESUSAHAN. 

Satu kawan sejati yang datang pada saat Anda susah adalah jauh lebih baik daripada ratusan kawan yang menyelamati dan bertepuk tangan ketika Anda sedang sukses.

Satu musuh sudah terlalu banyak dan seribu teman baik masih terlalu kurang.

Kawan Sejati adalah keluarga yang Alloh SWT pilihkan dan datangkan untuk menyertai perjalanan dan perjuangan hidup Anda. Kelak Anda dan kawan sejati Anda bisa sama sama memberi manfaat bagi kehidupan yang lebih luas. 

 

SEMANGAT SUKSES 

(Mirza A.Muthi)