Hallo para pembaca yang budiman. Mohon maaf obingmitra.com sempat vakum cukup lama dari konseling online karena memang belum ada pertanyaan baru lagi yang masuk ke redaksi. Kita sama sama maklum di situasi pandemic ini fokus semua orang pindah pada mode bertahan. Bisa bertahan hidup dan bertahan memenuhi kebutuhan minimal hidup saja sudah alhamduillah. Maka obingmitra.com juga memutuskan untuk stop tayang dulu sampai tayang lagi Agustus 2021 ini di bulan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selasa, 31 Agustus 2021
Adab Anda Menerima Bantuan
Hallo para pembaca yang budiman. Mohon maaf obingmitra.com sempat vakum cukup lama dari konseling online karena memang belum ada pertanyaan baru lagi yang masuk ke redaksi. Kita sama sama maklum di situasi pandemic ini fokus semua orang pindah pada mode bertahan. Bisa bertahan hidup dan bertahan memenuhi kebutuhan minimal hidup saja sudah alhamduillah. Maka obingmitra.com juga memutuskan untuk stop tayang dulu sampai tayang lagi Agustus 2021 ini di bulan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Minggu, 07 Maret 2021
Percaya Awal Komunikasi Harmonis
Manager sebuah resto berkeluh kesah bahwa Owner seperti kurang percaya kepadanya. Tugas utamanya adalah memastikan bisnis resto secara operasional aman, efektif , efesien dan menghasilkan profit. Tapi sampai urusan minta uang untuk belanja garam saja harus tunggu owner datang untuk tandatangan. Urusan dimana harus belanja juga harus di toko/supplier yang sudah disepakati awal, tidak peduli bahwa ini belanja urgent hanya untuk menutupi ketiadaan bahan baku menu yang diorder tamu. Urusan reward punishment karyawan harus sepersetujuan owner, padahal owner tidak mengalami keseharian operasional di resto, dan banyak lagi. Padahal jika hasil operasional tidak memenuhi untuk membayar gaji atau biaya operasional, pasti manager yang harus sepenuhnya bertanggung jawab tanpa mau tahu kendala lapangan. Manager merasa sama sekali tidak ada kepercayaan dan wewenang sebagai manager selain hanya boneka dan bumper jika ada masalah.
Rabu, 10 Februari 2021
Prioritas di Bisnis Konveksi
Konveksi merupakan bisnis yang mendukung industri fashion secara keseluruhan. Untuk produk yang sudah fixed design dan tinggal diproduksi untuk mengejar quantity (jumlah) dan harus tetap menjaga quality (mutu), maka sektor produksi yang meliputi Sumber Daya Manusia/ mitra penjahit, alat alat produksi dan ketersediaan bahan menjadi prioritas. Harus ada manajemen produksi yang kuat dan sinkron dengan target penjualan/ request order. Untuk alat produksi tentu bisa saja diusahakan dengan kredit dari Bank Kovensional atau skema kredit usaha baik dari Bank Syariah. Lebih mudah lagi jika sudah memiliki Purchase Order/ Request Order atau memiliki produk brand yang demandnya tinggi dibuktikan dengan catatan penjualan dan aktifitas feed back marketing sales. Alat/equipment kerja tidak terlalu sulit diatur asalkan sudah memiliki pakem bahwa minimal 10% dari pendapatan bulanan harus dialokasikan untuk pemeliharaan alat dan cadangan peremajaan peralatan karena alat2 bisnis konveksi juga termasuk cepat perkembangan teknologinya. Makin maju teknologi, makin cepat kerjanya, makin prima hasilnya dan makin tinggi kapasitas produksinya. Juga perlu memiliki beberapa pekerja yang betul betul ahli untuk menangani setiap jenis peralatan mulai dari aplikasi pekerjaan sampai ke problem solvingnya jika ada kendala. Lalu ini harus diajarkan ke pekerja lainnya untuk standarisasi sklill pemahaman alat kerja.
Senin, 25 Januari 2021
Investasi Resto di Masa Pandemic
Pengusaha resto mengeluh masalah outlet outlet mereka yang tidak bisa operasional optimal di Mall mall karena PSBB. Jam kunjungan pelanggan dibatasi, kapasitas ruang dibatasi, sementara karyawan tetap harus digaji, service charge tetap harus dibayar dan sederet pembatasan lain membuat bisnis resto tidak bisa berjalan normal sesuai rencana investasi.
Minggu, 20 Desember 2020
Kemasan Sebagai Marketing
Beberapa pertanyaan tentang salah satu kelemahan UMKM yaitu kurang mendayagunakan kemasan sebagai kekuatan marketing produk. Misalnya kripik pisangnya memang terbukti enak, gurih renyah dan asin manisnya pas. Dikemas hanya dalam kantong plastik transparan yang simple lalu ditempel stiker brand/merk dengan design sederhana. Banyak tetangga sekitar suka rasanya, tapi..kenapa susah sekali berkembang pasarnya ke wilayah pasar yang lebih luas? Salah satu penyebabnya yang krusial adalah kemasan. Bagaimanapun pada saat produk didisplay atau ditampilkan di foto, pertama kali yang dilihat orang adalah kemasannya. Jadi kesan pertama adalah kemasan. Dari kemasan bisa dikesankan "semewah" apa produk yang ada di dalamnya. Kemewahan rasanya, kemewahan renyahnya, keamanan kebersihannya, kebersihan proses produksinya, keprofesionalan produsennya, semua bisa tercermin dari kemasan. Kemasan yang lebih profesional juga pasti akan lebih mudah diterima di jalur penjualan jaringan resmi seperti supermarket ataupun market place.
Rabu, 04 November 2020
Apa Bisnis Yang Cuma Satu Satunya?
Sebetulnya bisnis/ usaha apa yang betul betul baru atau tidak ada pesaingnya saat ini? Mengapa ada bisnis sejenis tapi yang satu hidup berjaya, yang lain biasa saja, satu lagi bahkan bisa kalah bersaing lalu tutup? Apa sebetulnya yang membedakan padahal produknya sama sama itu juga?
Sabtu, 24 Oktober 2020
Proses vs Hasil
Me-refer pada *Resume Kajian MQ Pagi* 5 September 2020 M berjudul *Supaya Mudah Bersabar* dari KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang di akhir tausyahnya membahas Proses vs Hasil
Ada yang bertanya, bagaimana cara kita senang dalam beramal atau sabar ketika menghadapi kesulitan? Itulah menu utama dari Proses, yaitu sabar. Bagi kita yang penting itu adalah proses, bukan hasil. Hasil itu Allah Ta'ala yang menentukan, tapi proses niat yang baik, ikhtiar yang maksimal, itu yang harus kita nikmati. "Hasil itu bonus, rezeki kita adalah proses. Orang yang sabar orientasinya menikmati proses, bukan menikmati hasil." , demikian Aa Gym. Proses memberikan kita ilmu dan pengalaman. Pengalaman baik ataupun buruk akan memperkaya kemampuan kita dalam berikhtiar. Dan yang penting sabar kita dalam menjalankan proses kita ini akan dicatat sebagai amal Sholeh.
Hanya saja kebanyakan dari kita selalu melihat hasil daripada proses. Ibu paruh baya mencuri selop sosialita di rumah warga pada saat ada acara, ketahuan dan digebuki oleh massa. Hasilnya tewas mengenaskan sia sia di jalanan. Dicaci maki "dasar ibu tua gak insaf insaf maling sepatu..rasain..cuih..!" . Padahal mereka tidak tahu prosesnya adalah beliau dan 2 anaknya sudah tidak makan 3 hari dan akhirnya terdorong rasa lapar yang kuat mencuri selop ibu tamu untuk dijual ke loak sekedar membeli beras. Tidak ada yang peduli dengan rasa laparnya dan naluri keibuannya memberi makan bagi kedua anaknya. Mengenaskan.
Karyawan di eselon yang sama, bapak yang satu sederhana dengan mobil keluarga biasa, berpakaian wajar pasti lebih kurang pandangan penghormatan kawan dan relasinya, dibanding si bapak yang mentereng jas dan kemejanya lengkap dengan cincin berlian. Datang ke acara makan malam dengan mercy eksklusif ditemani istrinya yang glamour. Hasil penampilannya jelas terlihat beda. Tapi ternyata bapak yang satu berproses dengan sabar , menahan diri dan hidup hemat secukupnya, sedang bapak tajir berproses dengan korupsi, manipulasi, intimidasi dan "fee"kinisasi. Pokoknya semua melihat hasil bahwa bapak tajir ini sangat melintir suksesnya dan sempurna hidupnya. Semua orang mau jadi seperti dia. Lalu saat covid 19 melanda, bisnis shutdown dan semua kesenangan berubah, sang istri yang biasa hidup mewah mulai gelisah, tidak terima dengan berkurangnya standard kenikmatan hidup, lalu menggugat cerai suami miskin barunya. Itulah hasil dari tidak sabar terhadap proses.
Dari beberapa orang anak ada 1 anak yang paling gelisah proses hidupnya. Ekonominya naik turun, maunya kerja sendiri atau jadi pengusaha dibanding jadi karyawan yang aman tentram dengan kepastian gaji bulanan. Padahal idealisme itu adalah proses bathin yang kuat bahwa hidup harus memberi manfaat bagi banyak orang, bisa membuka lapangan kerja bagi beberapa keluarga, dibanding cuma aman nyaman hidup sendiri yang lain bukan urusan saya. Sampai 1 anak itu dipandang sebagai hasil anak gagal yang banyak hutangnya, padahal itu adalah proses dalam hidupnya yang berusaha sementara bertahan memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus meminta orang tua dan adik adiknya. Sudah mahal mahal dikuliahkan tapi tidak diberi uang beli buku sehingga terpaksa fotocopy banyak sekali mengingat jaman tsb belum ada internet dan google untuk mencati referensi gratis dan kuliah harus punya buku, sekalipun hanya fotocopyan yang dibeli dengan cara berhutang. Belum lagi terpaksa berhutang untuk bertahan hidup keluarga karena memang belum memiliki pekerjaan selepas diPHK semasa krisis ekonomi karena bantuan BLT orangtua yang diberikan setiap minggu sangat jauh dari kebutuhan standard minimal. Yang selalu disampaikan adalah..sudah disekolahkan paling tinggi tapi hutangnya juga paling banyak. Pokoknya berhutang...tidak mau tahu alasan kenapa dia berhutang. Paling merepotkan karena keluarga besar harus menanggung dampak dan keluar uang terus untuk menutupi hutang. Padahal si anak hanya berusaha bertahan kalau bisa tanpa harus merepotkan keluarga besar. Mungkin nanti dalam prosesnya dia masih sempat membereskan hutang hutangnya dari kekuatan sendiri. Tapi tidak semua sanggup sabar dalam menjalani proses panjang. Pandangan orangtua kepada anak berdasarkan pengamatan hasil bukan pendalaman proses.
Proses juga butuh daya tahan dalam menghadapi beraneka macam ujian. Ujian hidup ini yang akan membentuk karakter pada seseorang dibanding mereka yang hidupnya cenderung stagnan dan nyaman. Mereka yang matang ditempa proses biasanya lebih sabar, rendah hati walaupun dihina oleh bahkan saudaranya sendiri, juga tidak mudah memandang sikap pada orang lain tanpa menganalisa prosesnya, sehingga ibu paruh baya yang di perayaan undangan tadi tidak jadi gugur kalau ketemu orang yang paham akan proses. Mungkin malah si ibu akan diberikan pekerjaan olehnya dan berproses untuk kesempatan hidup lebih baik selanjutnya. Sudut pandang beda maka hasil tindakannya juga akan beda. Proses membutuhkan daya tahan, tidak semua orang paham makna sebuah proses dan bisa tahan menjalani panjang dan lamanya sebuah proses sampai berhasil. Tapi hasil adalah upah, upah bisa instant seperti dagang, buka lapak pagi lalu sore nanti sudah ada uang. Karyawan mendapatkan hasil dengan terima gaji..Tapi ada juga pengusaha yang butuh bertahun tahun kembali modal sebelum mendapatkan hasil keuntungan, yang itulah dinamakan proses yang membawa hasil.
Semua usaha harusnya bisa membawa hasil, terlepas memuaskan atau kurang memuaskan atau bahkan belum berhasil. Tapi dari setiap proses kita selalu dapat pelajaran. Apakah pelajaran baik atau pengalaman buruk yang tidak boleh diulang. Dalam hasil , buruk ya jelek dan sukses ya bagus. Tapi dalam proses, baik dan buruk sama berharganya.
SEMANGAT SUKSES
(Mirza A.Muthi)






