Rabu, 01 Juni 2011

BEDA BROSUR DENGAN BOOKLET?

Tanya:"BEDA BROSUR DENGAN BOOKLET?"

Selamat Siang Pak Purwanto..

Saat ini saya sedang berusaha membuat media promosi buat usaha kecil2an saya.  Jujur saja,  blog  Bapak sangat membantu saya.
Mohon bantuannya, apa bedanya Brosur dan booklet itu Pak? Kalau memungkinkan, tolong dibuat tatacara bikin booklet juga dong Pak...

Terima Kasih.

Hormat Saya,
Denny Surya Sentosa

Jawab:

Saya akan fokuskan penjelasannya di booklet saja ya…. Karena kalau masalah brosur sudah banyak dibahas dalam tulisan terdahulu. Pak Denny bisa membacanya diblog saya.

Booklet biasanya berbentuk seperti buku kecil yang berisi tentang segala informasi mengenai perusahaan kita dengan berbagai bentuk pelayanan & produk yang dihasilkannya. Fungsi booklet ini hampir sama dengan Product Catalogue (Katalog produk). Keduanya sama-sama mendisplay atau menampilkan hampir semua produk yang dihasilkan sebuah perusahaan lengkap dengan keterangan/spesifikasi dan mungkin harganya. Kalau anda belanja ke Carrefour atau Hypermart, biasanya anda akan dengan mudah mendapatkan Katalog Produk ini. Bedanya hanya pada format ukuran. Booklet ukurannya lebih kecil dibanding yang sering kita dapatkan di Carrefour/Hypermart. Selain itu biasanya bahan kertas booklet lebih baik dengan mutu cetakan yang juga lebih bagus.

Dalam booklet kita akan mempunyai ruang halaman yang lebih banyak untuk menampilkan apa saja tentang perusahaan kita. Unsur-unsur yang bisa kita masukkan kedalam booklet antara lain :

- Sejarah berdirinya perusahaan kita
- Struktur organisasi perusahaan
- Fasilitas-fasilitas yang perusahaan miliki. (Mesin-mesin, Gudang, Ruang produksi, Gedung-gedung, jaringan computer dll.)
- Bahan baku yang berkualitas
- Proses produksi
- Quality Control
- Pengolahan limbah sisa produksi
- Hasil-hasil produksi (Produk-produk yang kita jual)
- Jaringan penjualan
- After Sales Service
- Garansi
- Penawaran harga khusus
- Dll. Sesuai kondisi perusahaan.

Yang perlu ditekankan dalam membuat boolet adalah jangan terlalu banyak menggunakan kalimat yang bertele-tele. Perbanyaklah menampilkan Foto-foto ilustrasi yang menarik dengan keterangannya yang singkat & jelas. Layout disainya juga jangan terlalu standar. Buatlah semenarik mungkin, karena booklet ini biasanya disimpan orang lebih lama dibandingkan brosur dan yang lainnya. Bahkan kadang-kadang booklet disimpan orang agar nanti di kemudian hari kalau membutuhkan pruduk tertentu mereka dengan mudah mendapatkan informasinya dari booklet tersebut.

Booklet sangat cocok digunakan untuk perusahaan yang pruduknya memiliki nilai jual yang tinggi dan tipe/line up produknya tidak cepat berubah seperti :

- Mesin/Alat-alat berat.
- Furniture
- Peralatan Keamanan
- Barang-barang Koleksi seni
- Barang-barang kebutuhan Hoby (memancing, menyelam, aeromodeling, peralatan pendakian dll)
- Peralatan dapur/memasak,
- Produk-produk Jasa, dll.

Booklet tidak cocok dipakai untuk perusahaan yang nilai jualnya rendah  & tipe/line up produknya cepat berubah seperti Consumer goods (barang kebutuhan sehari-hari), pakaian, pernak-pernik atau barang-barang lain yang sifatnya sangat mengikuti perkembangan mode & jaman.

Kenapa begitu??? Karena onkos produksi membuat booklet ini sangat tinggi. Kalau barang yang kita jual harganya murah, otomatis akan boros biaya promosinya. Dan kalau barang yang kita jual juga cepat berubah modelnya, maka booklet kita akan cepat ketinggalan jaman. Padahal mungkin booklet yang kita buat belum tentu sempat tersebar secara merata sampai habis, eeeeehhh kita harus buat lagi booklet baru dengan materi produk yang baru juga. Tidak efisien bukan??? Tapi sebenarnya ini bukan patokan baku, karena kalau dana promosinya menunjang tentu apapun produknya bisa dibuatkan booklet.

Sekian dulu saya rasa penjelasan mengenai apa itu booklet. Mengenai tata cara membuat booklet saya akan jelaskan pada kesempatan tersendiri, karena pertanyaan Bapak sederhana tapi jawabannya lumayan panjang. He…he… mohon maaf sekali pak. Ingatkan saya yah untuk menjawabnya di lain waktu. Semoga usahanya sukses & Terima kasih….


Purwanto

Minggu, 01 Mei 2011

BUBBLE FENOMENA

TANYA :"BUBBLE FENOMENA"


Yth Pak Mirza

Saya sering mendengar perusahaan yang belum pernah terdengar sebelumnya lalu langsung mendadak terkenal dan beberapa tahun kemudian mendadak hancur lebur lagi. Kenapa bisa begitu ya? Kira kira apa penyebab utamanya. Kami ber 5 sedang merintis membuka usaha dengan perusahaan saham patungan dan dari awal kami berusaha mengantisipasi hal hal seperti di atas agar tidak terjadi. Terimakasih

Widya-Cirebon

JAWAB:

Apa khabar Mba Widya, bagus sekali memulai usaha bersama dengan kawan kawan. Pasti nanti akan sukses ya. Mengantisipasi segala kemungkinan terburuk dalam memulai usaha memang perlu, tapi jangan malah nanti terbebani dan akhirnya tidak berani. MEMULAI adalah kata kunci pertama. Kalau kita tidak pernah memulai maka kita tidak akan tahu apa apa saja yang dibutuhkan kita untuk bisa maju. Semangat sukses ya.

Mengenai pertanyaan Mba Widya, inilah disebut fenomena BUBBLE : Menggelembung dengan cepat lalu meletus dan hilang tanpa sisa. Tragis ya. Kalau balon busa memang bisa yang hilang tanpa sisa, tapi kalau usaha/ bisnis bisa hilang, tapi tetap meninggalkan hutang dan masalah. Pernah dengar istilah, musuh terberat seseorang adalah diri sendiri? Maka begitulah juga musuh terbesar perusahaan sukses adalah karyawan sendiri. Justru bukan competitor atau kondisi pasar. Kenapa begitu? Coba perhatikan kronologisnya. Bisnis dibangun dengan susah payah oleh founder perusahaan dan karyawan karyawan inti terpilih. Tentunya untuk mendapatkan karyawan terpilih ini tidak gampang, setelah melalui beberapa kali bongkar pasang baru bisa dapat karyawan karyawan yang terpilih, satu visi misi dan terpenting memang punya keahlian spesifik di bidang masing masing yang bisa sinergi untuk mewujudkan cita cita menuju perusahaan yang berhasil dan terpandang.


Simsalabim..ternyata itu berhasil. Hanya dalam tempo 3 – 5 tahun perusahaan itu jadi perusahaan sangat terkenal. Dari “Nothing” menjadi “Something”. Dari tidak diperhitungkan oleh competitor, menjadi referensi penting competitor dan pebisnis next generation yang ingin membuka jenis bisnis yang sama. Tentunya kemajuan perusahaan berbanding lurus dengan income perusahaan. Perusahaan makin besar, cabang makin banyak, karyawan makin banyak. Omzet makin baik dan ini tidak bisa ditutup tutupi. Orang luar saja bisa menilai dan kagum dengan kesuksesan ini, apalagi orang dalam perusahaan termasuk para karyawan inti ini dan juga seluruh karyawan perusahaan. Owner ownernya tentu makin kaya dan makmur. TAPI APAKAH KESEJAHTERAAN KARYAWAN JUGA IKUT MENINGKAT ? Ini yang jadi pertanyaan besar dan akar dari kehancuran perusahaan.

Jadi kalau perusahaan Mba Widya nanti menjadi sukses dan besar, jangan pernah menikmati kemakmuran sebatas hanya di kalangan para owner sementara karyawan tetap terpinggirkan dalam kondisi ekonomi yang kurang mengalami peningkatan sejak awal perusahaan dibangun. Apalagi untuk karyawan Inti yang memang memiliki skill yang memiliki peran besar dalam memajukan perusahaan tentunya memiliki “posisi tawar” yang tinggi di pasaran professional. Buat mereka, perusahaan-lah yang butuh mereka, bukan mereka yang butuh kerja di perusahaan. Karena di luar sana banyak perusahaan yang ingin karyawan expert skilled tersebut begabung dengan mereka. Kalau karyawan inti ini merasa tidak diperhatikan sebagaimana prestasinya dan akhirnya memutuskan keluar dari perusahaan, akan berat bagi perusahaan untuk menjaga kestabilan usahanya sama seperti dulu. Apalagi para karyawan inti ini juga membuka bisnis sejenis yang jelas jelas akan menjadi competitor tangguh di bisnis sejenis karena semua “kunci sukses” perusahaan akan dicopy paste di perusahaan baru yang menerimanya kerja dengan kompensasi yang jauh lebih memuaskan.

Jika ini terjadi, maka terjadilah bencana BUBBLE yang meletus. Perusahaan yang ajaib ini hancur karena ditinggal karyawan karyawan kunci yang tidak nyaman karena merasa para owner meninggalkan mereka setelah perusahaan dengan susah payah mereka ikut sukseskan. Karyawan juga manusia biasa, jangan menganggap mereka tidak punya loyalitas terhadap perusahaan. Apalagi para professional ini bukan orang kecil yang bodoh, yang bisa terpuaskan hanya dengan gaji di bawah standard pasaran untuk levelnya dan tambahan bonus atau komisi kecil kecil yang owner sebut sebagai “tambahan”. Sementara di luar perusahaan “undangan yang menggoda” sudah sangat mengganggu konsentrasi kerja untuk segera merubah keadaan sendiri jika perusahaan sekarang tidak bisa membantu merubah keadaan ekonomi mereka. Jangan salahkan kalau karyawan pindah bekerja karena kebutuhannya tidak bisa dipenuhi di perusahaan ini. Jadi mungkin cukup jelas bagi Mba Widya, dan saya yakin Mba Widya nanti sebagai pemilik perusahaan akan lebih bijaksana mengelola kesejahteraan karyawan.

Memang tidak semua kehancuran perusahaan terjadi karena masalah ini. Bisa juga mismanagement, atau misleading dalam mengarahkan tujuan utama perusahaan. Tapi jika pertanyaan Mba Widya merujuk kepada perusahaan yang bisa sukses secara cepat  lalu mendadak hancur, maka rata rata masalahnya justru di kurang seimbangnya penghargaan terhadap karyawan inti.  Kegagalan perusahaan lain jadikan pelajaran, Mba Widya tidak harus mengalaminya sendiri untuk bisa menjadi tahu bagaimana rasanya hancur. Tapi jangan jadi penghalang untuk memulai membentuk perusahaan sendiri. Lanjutkan cita cita Mba Widya dan kawan kawan untuk membuat perusahaan sendiri yang lebih baik dan lebih sukses dan tetap berkesinambungan.

SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi )

Minggu, 03 April 2011

USAHA KAOS PROMOSI

TANYA:"USAHA KAOS PROMOSI"


Hi Pak Pur....

Saya dengan Bryan ingin menanyakan beberapa hal tentang promosi... karena saya lihat di blog bapak sudah banyak sekali orang yang terbantu dengan adanya blog yang bapak buat... dan saya ingin meminta bantuan untuk menanyakan beberapa hal.

Begini Pak, saya sendiri bergerak di bidang promosi baru-baru ini, sementara hanya fokus pada baju promosi dan akan segera merambat ke barang-barang promosi yang lainya.. Masalah yang saya hadapi sekarang ini adalah kebingungan untuk mempromosikan barang-barang promosi yang saya buat... dan yang ingin saya tantakan adalah:

1. Tahap awal apa yang harus saya lakukan untuk mempromosikan kaos promosi saya? dan bagaimana cara mempromosikanya? Sementara ini sudah dapat berjalan, tapi kemampuan saya untu memproduksi sudah bisa untuk menerima tawaran lain... tapi saya merasa kurang adanya promosi yang dilakukan untuk mendapatkan orderan...

2. Apa yang harus saya lakukan untuk tahap selanjutnya untuk dapat berkembang lebih luas lagi??

Untuk saranya saya ucapkan terima kasih...

Best Regards,

Bryan

JAWAB:

Hi pak Bryan…

Kalau kapasitas produksi bapak sudah siap untuk order yang lebih besar lagi, maka pemikiran Anda untuk berkembang sangatlah bagus. Untuk kasus bapak ini saya raya perbanyaklah menyebar surat perkenalan atau proposal penawaran ke target-target klien yang baru. Buatlah brosur atau Company Profile (Profil Perusahaan) Anda dan kirimkan ke perusahaan-perusahaan yang memang memiliki budget promosi.


Bagaimana kita bisa tahu bahwa suatu perusahaan memiliki budget Promosi?

Ya tentunya Anda harus banyak-banyak cari informasi dari orang-orang yang dikenal, bisa juga dengan melihat perusahaan apa saja yang sedang beriklan di surat kabar/majalah yang sedang terbit saat itu, perusahaan apa saja yang sedang beriklan di TV atau Radio, lihat-lihat di Yellow page, lihat-lihat perusahaan yang sedang pameran di Mall-Mall atau berkenalan dengan para pemimpin organisasi di masyarakat seperti Partai, sekolah-sekolah, club olah raga, Club-club hobiis dll.


Sebarkan brosur atau profil perusahaan anda dan sesekali telphonlah mereka untuk menanyakan apakah ada kebutuhan untuk membuat kaos sponsor?

Kalau anda berencana untuk expansi ke wilayah yang lebih luas lagi, anda bisa juga membuat web-blog atau website sendiri sehingga usaha anda bisa diakses selama 24 jam penuh.

Selamat berburu klien…..


Purwanto

Jumat, 01 April 2011

BIROKRASI JANGAN MENGHAMBAT SERVICE KE CLIENT

Tanya:"BIROKRASI JANGAN MENGHAMBAT SERVICE KE CLIENT"


Kami bergerak di bidang interior design yang customize karena harus mengikuti denah layout dan keinginan dari client. Saya sebagai marketing di lapangan heran kenapa di awal respon client jangka panjang kami baik, tapi periode 2 bulan ke depan di project berikutnya mereka mulai memindahkan pekerjaannya ke perusahaan lain dengan alasan service kami terlalu bertele tele. Padahal jelas jelas dari segi pekerjaan standard kami selalu termasuk terbaik dan mereka juga puas. Mohon petunjuk. Terimakasih

Indra, Jakarta

Jawab:

Yth bpk Indra

Perusahaan manufactur atau interior customize tentu saja mengharuskan proses kerja di awal terdiri dari kunjungan berkali kali ke target lokasi. Mulai dari survey lokasi, pengukuran, gambar layout equipment berdasarkan denah area/ ruangan tersedia, menyamakan ide design, selera agar fit in antara keinginan dan budget client, dan fleksibilitas support dari perusahaan agar tetap mendapatkan keuntungan. Hal ini tidak mudah karena biasanya mulai dari tahap design bisa berkali kali datang untuk assistensi dan perubahan design. Setiap proses ini tentu saja membutuhkan biaya, biaya survey seperti ticket pesawat atau bensin mobil dan akomodasi jika lokasi project client di luar kota, biaya entertainment : kadang dalam rangka untuk membangun suasana kondusif sesekali anda perlu mengajak client untuk “lunch meeting” di cafĂ© atau resto, bukan melulu di kantor client, juga di akhir project bisa juga Anda memberi semacam “tips terimakasih” kepada PIC keputusan bisa bekerjanya perusahaan Anda di project ini ( jangan memberi tips di awal project karena itu namanya “suap” agar Anda diberikan project ). Untuk tahap di atas biasanya dilakukan oleh Dept. Marketing dan Dept. Teknik Support dari perusahaan interior design & kontraktor. Hal hal di atas adalah umum di project yang harus diketahui juga oleh Dept Keuangan

Dept Keuangan di suatu perusahaan memang memegang fungsi control dari penggunaan uang perusahaan. Tapi seringkali antara orang keuangan dan orang lapangan tidak memiliki persepsi yang sama terhadap arti cost. Bagi orang keuangan, hal hal cost seperti di atas adalah pemborosan. Misalnya komplain dari keuangan ke orang lapangan, kalau bisa ketemu cukup sekali, bereskan semua saat itu juga agar tidak terlalu banyak biaya transport dan akomodasi. Padahal saat itu menurut orang marketing suasananya tidak kondusif jika meeting untuk waktu panjang karena client juga sibuk dan perlu ada revisi dahulu, sehingga memang perlu ada meeting berikutnya. Bawa persediaan uang yang cukup karena jika Anda harus “makan-minum” di selama perjalanan dinas Anda maka bukan client Anda yang bayar tapi harus Anda yang menangani sebagai ungkapan hormat Anda ke client. Bukan hanya itu, parahnya bisa jadi orang marketing dan teknik support terlambat datang ke lokasi client karena kendala biaya tiketnya belum disetujui Direktur Keuangan. Selama project mungkin ada satu dua pekerjaan tambah yang harus urgent diadakan tanpa harus mengajukan invoice dahulu dan menunggu invoice disetujui. Ada juga masalah jika project selesai , fee komisi/ uang terimakasih yang dijanjikan Anda tidak kunjung keluar karena alasan birokrasi sehingga kuasa pemilik project kecewa dan tidak memperpanjang masa kerja Anda di project selanjutnya.

Maka coba cek koordinasi antara Dept Marketing dan Technical Support dengan Dept Keuangan apakah ada mislead koordinasi yang mengakibatkan kontra produktif antar sisi service client dengan sisi control budget. Dari Div Produksi, jika harus mengeluarkan nilai quotation yang lebih tinggi dengan memasukkan biaya biaya survey, entertaint, transport , fee komisi dan lain lain tersebut , lebih baik lakukan penawaran sebelum project mulai untuk mendapat persetujuan dari owner project sepanjang harganya masih masuk akal. Jangan memalukan dengan bicara kita bisa ke sana karena tidak ada biaya ticket pesawat. Itu akan merendahkan bonafiditas perusahaan Anda. Selama pekerjaan berlangsung, prioritaskan kepada target waktu project dengan tetap menjaga kualitas kerja karena tepat waktu dan kualitas prima merupakan parameter utama kepuasan project owner. Masalah ada sedikit sedikit pekerjaan tambah cobalah untuk fleksible untuk pengadaan segera dan diaplikasi di project di luar quotation awal, yang penting sudah atas sepengetahuan owner project dan pasti nanti kekurangannya akan tetap dibayar.

Bagi Marketer, penggunaan uang ops untuk entertaint ataupun komisi harus dicatat rapi, detil dan penggunaannya terukur serta bisa dipertanggung jawabkan relevan dengan nilai project yang didapat. Bagi kaum birokrat di Dept.Keuangan juga harus mengetahui bahwa mencari dan me-maintain client itu tidak mudah. Yang penting jelas parameter kegiatan marketing dan batasan pengeluaran cost maka biarkan marketer berimprovisasi di lapangan untuk kepuasan dan kecepatan service client. Client senang, mereka akan terus menggunakan jasa perusahaan Anda, omzet akan terus mengalir dan semua karyawan senang. Demikian Pak Indra, berdasarkan pengalaman kerja saya kenapa perusahaan yang produksinya terkenal baik tapi seringkali tidak bisa menjaga loyalitas clientnya walaupun dari segi prestasi pekerjaan tidak ada masalah.
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A. Muthi )

  

BAGAIMANA CARA BERSUNGGUH SUNGGUH?

TANYA :"BAGAIMANA CARA BERSUNGGUH SUNGGUH? "

Pak Mirza yang ok

Saya mau minta pencerahan dari bapak bagaimana cara kita bersungguh sungguh dalam melakukan pekerjaan? Sebab apapun yang kita kerjakan pada akhirnya tidak akan sukses kalau tidak bersungguh sungguh. Tapi kenyataannya itu susah sekali. Mohon inputnya. Terimakasih

Ahmad Wijaya

JAWAB:

Yth Bpk Ahmad Wijaya

Saya setuju pendapat bapak, betul sekali. Akan sia sia saja mengerjakan sesuatu yang harusnya bisa menghasilkan sesuatu yang baik tapi gagal karena kita tidak bersungguh sungguh melaksanakannya maka hasilnya akan asal jadi. Haslnya pun tidak akan terlalu dihargai oleh yang melihatnya, tidak ada nilai tambahnya buat Anda atau orang lain, hanya buang biaya dan buang tenaga. Apalagi jika ini sifatnya rutin untuk jangka waktu yang panjang maka seperti orang buang buang waktu saja. Bukankan Allah SWT berfirman “Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan akan engkau akan hidup selamanya dan Beribadahlah untuk akhiratmu seakan akan engkau akan mati esok pagi”. Jadi intinya baik itu untuk urusan dunia ataupun akhirat, bersungguh sungguh mengusahakan yang terbaik itu wajib hukumnya.

Caranya bersungguh sungguh:

1.Tahu tujuan besarnya untuk pribadi.

Seperti seorang karyawan: pergi pagi pulang petang seperti hal rutin saja dilakukan selama bertahun tahun dilakukan. Kita hanya mengejar target perusahaan. Padahal buat apa kita kejar target orang lain, kejar target pribadi yaitu “gunakan perusahaan sebagai kendaraan” dalam meningkatkan personal value. Misalnya dalam dept sales, pimpinan Anda member target Rp. 50 juta sales per bulan, maka jangan pasang target cukup Rp. 50 juta juga. Pasang target pribadi Rp. 80 juta atau Rp.100 juta. Tujuannya agar kita berusaha lebih keras untuk target yang lebih tinggi tersebut. Sehingga jika target sendiripun kurang terpenuhi, tapi target perusahaan telah terpenuhi Lalu kenapa kita pasang target 2x dari target perusahaan? Karena kelak komisi yang bisa didapat akan juga lebih besar dan akan lebih cepat menabung untuk membayar Dp rumah, mencicil mobil/ motor dan berbagai kebutuhan lain. Jika Anda cuma memenuhi target perusahaan, maka hanya perusahaan yang akan senang. Tapi jika kita memenuhi target pribadi, maka Anda sendiri yang akan mendapat benefit lebihnya. Belum lagi karir Anda akan lebih cepat melesat karena performa sales Anda diatas rata rata.


2.Siapa saja orang tersayang yang sedang diperjuangkan dalam tugas ini.

Apakah saat ini Anda sudah punya anak? Sebelum berangkat pagi ke kantor coba pandangi wajah polos anak Anda pada saat dia masih terlelap dalam tidurnya. Tidakkah Anda merasa bahwa dia begitu lemah, begitu polosnya dan dia betul betul berharap dari Anda untuk bisa menjaga dan mencukupkan kehidupannya dari segi makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan bahkan kebutuhan senang senang masa kecilnya? Pagi ini Anda akan pergi berusaha apakah itu ke kantor atau menjadi wirausaha. Mungkin saja karena kehendak Allah SWT maka ini jadi hari terakhir Anda bisa memandangi wajah anak kesayangan Anda. Apapun hasil kerja Anda hari ini harus bisa membawa rejeki yang cukup dari sumber yang baik dan halal buat anak Anda, maka pasti Anda akan selalu bersungguh sungguh menjalani hari demi hari. Karena hari ini seakan akan adalah hari terakhir Anda bisa berjuang untuk anak Anda. Bagi saya, anak adalah sumber tenaga kita untuk bergerak maju, tidak peduli apapun halangannya atau seberat apapun situasinya. Untuk Anak kita berjuang dalam hidup. Sekarang untuk siapa Anda berjuang? Untuk anak juga, untuk istri, untuk orang tua? Atau untuk calon pendamping atau untuk suatu tujuan prinsip yang emosional seperti untuk tabungan haji, beli rumah? Cari alasan paling kuat dan paling emosional dari dalam diri Anda untuk siapa Anda berjuang. Setiap orang punya alasan untuk apa dan untuk siapa dia bisa berkorban dan berusaha secara maksimal.


3.Bagaimana penderitaan yang terjadi kalau saya tidak lakukan ini dengan sungguh sungguh. 

Sekarang apa yang terjadi kalau kita tidak bersungguh sungguh dan usaha yang kita lakukan akhirnya gagal, dipecat dari perusahaan, digantikan posisi oleh orang lain, diputus kontrak proyek karena hasil kerja kita dibawah standard? Apakah hanya kita yang menderita? Tentu saja tidak, anak kita akan ikut menderita, istri dan orang tua yang menggantungkan hidupnya pada kita juga akan menderita. Misalnya kita tidak bisa membayar hutang hutang dan hidup akan selalu gelisah karena dikejar debt collector. Untuk menjadi gagal karena tidak bersungguh sungguh tidak butuh waktu yang lama untuk melihat dampaknya dari kegagalan, tapi justru kita akan menderita penderitaan dan kesusahan yang lama dan panjang sebagai konsekuensi tidak bersungguh sungguh ini. Jika dipercaya orang memegang sebuah amanat pekerjaan/ bisnis maka bersungguh sungguhlah menjaga amanat tersebut, karena jika kita cederai kepercayaan tersebut maka tidak akan ada lagi yang pernah menyerahkan kepada Anda hal hal penting dan selamanya Anda tidak akan menjadi orang penting. Jangan melihat itu hal hal kecil atau hal hal besar. Jka Anda baru dipercaya menangani hal kecil, tangani dengan baik dan tunjukan Anda mampu bersungguh sungguh menyelesaikannya dengan sempurna. Bersungguh sungguh menupayakan berarti akan “memaksa” Anda untuk belajar, mengeksplore, mencari, berusaha keras dengan inisiati Anda bagaimana tugas tersebut bisa selesai dengan sempurna dan tepat waktu sesuai dengan tujuan si pemberi tugas. Kelak sesudah itu Anda menerima kepercayaan untuk hal yang lebih besar lagi , dari lebih banyak orang penting. Makin hari, bulan, tahun Anda akan berbeda jauh lebih bernilai dari Anda yang 5 tahun yang lalu karena Anda bersungguh sungguh, begitu seterusnya level Anda akan makin meningkat. Bagaimana Anda bisa menangani hal besar jika dalam menangani hal kecil saja Anda tidak bisa bersungguh sungguh. Jadi jika ingin derajat social, ekonomi dan lingkungan Anda meningkat terus, bersungguh sungguhlah dalam mengerjakan sebuah amanat/ tugas yang saat ini sedang Anda pegang. Jika tidak , maka Anda akan menderita disepanjang sisa umur Anda.


4.Apakah saya masih punya waktu dan kemampuan untuk mengulang kesempatan ini kembali.

Sekarang mungkin usia Anda sudah 30 tahun, lalu Anda tidak bersungguh sungguh menjalani pekerjaan Anda. Selama 5 tahun terus saja Anda melakukan standard kerja yang tidak memuaskan pimpinan dan akhirnya di usia 35 tahun Anda terpaksa dipecat. Apakah Anda berpikir akan lebih mudah mencari pekerjaan baru di usia 35 tahun? Apakan Anda pikir tenaga Anda masih cukup fit untuk mengambil kerja lebih fisik karena kerja kantoran tidak ada persahaan yang menerima menimbang track record Anda di perusahaan sebelumnya? Apakah kumpulan skill yang Anda miliki sekarang masih mampu bersaing dengan generasi lebih muda yang lebih tinggi dan lebih compatible skillnya dengan tuntutan pekerjaan, bahkan banyak pekerja datang dari luar negeri jika Anda bekerja di perusahaan multinasional. Zaman Anda telah lewat dan jika pada zaman itu Anda tidak sempat menjadi “sesuatu” maka akhirnya Anda hanya jadi debu debu zaman karena dari awal saat masih punya kesempatan Anda tidak bersungguh sungguh. Pikirkan jika Anda hanya membuang buang waktu untuk kesenangan sesaat maka selanjutnya Anda akan menderita selamanya karena Anda sudah tidak punya waktu dan tenaga untuk kembali mulai dari nol lagi.

Demikian kiranya Pak Ahmad Wijaya paradigma berpikir yang harus bapak susun agar bapak bisa bersungguh sungguh menjalani apa saja dalam kehidupan ini. Bukan hanya dalam hal posisi karir dan pekerjaan, tapi seluruh aspek hidup. Menjaga keharmonisan keluarga misalnya.  Jika sudah punya keluarga yang bahagia, istri yang setia, maka bersungguh sungguhlah menjaga komitmen kesetiaan dengan pasangan. Jangan sesekali bermain api dengan wanita lain, karena saat saat indah bersama keluarga Anda tidak akan bisa terulang lagi jika Anda menghianati istri.

Menyesal tidak bisa di depan dan pasti terjadi dibelakang. Pada saat itu Anda akan menyesal kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan tidak bisa mengulangnya lagi. Jadilah orang yang beruntung, yaitu hari esok lebih baik dari hari kemarin. 

SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi )



Selasa, 01 Maret 2011

CARA MEMBUAT FRANCHISE BISNIS KONSULTAN

TANYA:" Cara membuat franchise bisnis konsultan"

Dear Bp.Mirza,
Saya T. Setiawan,kami bergerak dibidang jasa penjualan software akuntansi,sistem akuntansi,apraisal,implementator software.
Bisnis kami berjalan msh konvensional,artinya buat surat penawaran,demo,deal,implementasi,kelar,bayar,udah. Kami bermaksud membuat cabang di beberapa kota,dg cara menjadikan franchise usaha ktr konsultan tsb.
Pertanyaan saya,apa yg perlukan spy ide sy tsb bisa terealisasi?
Terima kasih.

Salam,

T.Setiawan

JAWAB

Yth Bpk Setiawan. Apakah produk software bapak dari merk yang sudah terkenal? Jika belum maka produk software implementasi system ini termasuk usaha konsultan karena keberhasilan penawaran sampai kastemer memutuskan untuk membeli software ini 80% dari performance presentasi mengenai fungsi dan kehandalannya jika dibanding tidak menggunakan software sejenis sekaligus juga jika dibanding dengan competitor software sejenis yang ada di pasaran. Sebelum difranchisekan, tentunya bapak sudah harus memiliki track record baik dulu di outlet tempat bapak usaha konsultan system IT ini dahulu. Bagaimana track record performance sales bapak selama ini ? Ada kendala apa yang ditemukan selama ini dan apakah ada jurus jurus efektif untuk presentasi produk bapak agar dimengerti kastemer sampai memutuskan untuk membeli produk bapak. Minimal bapak sudah memiliki track record sales positif selama 2 tahun baru bapak merasa PD untuk memfranchisekan produk IT bapak.

Franchise bukan sekedar mendistribusikan produk agar bisa dijual di banyak tempat. Karena franchise berarti bapak menjanjikan kepada investor bapak yang membeli franchise bapak, bahwa produk dan system yang bapak tawaran kepada investor ( franchisee ) untuk dijalankan 85% akan berhasil mengembalikan modal franchisee dalam waktu yang masuk akal ( misalnya 1 – 2 tahun ). Untuk membuat kantor franchise usaha konsultan juga sangat perlu orang orang yang punya skill bagus di presentasi dan pastinya untuk software ini juga dia harus mengerti keuangan akuntansi karena pasti dibutuhkan untuk demo kasus dan menawab pertanyaan kasus dari calon kastemer. Tenaga skill seperti ini tidak bisa mendadak dicari di lowongan Koran pada saat nanti outlet baru dibuka, apalagi dibuka di daerah bukan kota propinsi. Perlu training center di kantor Pusat bapak untuk mempersiapkan tenaga skill ini. Ditraining masalah produk IT bapak, contoh contoh kasus, simulasi scenario cara menjawab pertanyaan dan harus siap dikirim ke lokasi outlet franchise yang baru dibuka. Memang ada cost untuk “menjaga” orang orang training ini sampai setiap orangnya punya lokasi kerja sendiri sendiri, tapi itulah kebutuhan skill di bisnis jasa konsultan, tidak bisa ditawar tawar lagi. Untuk awalnya cukup 2 orang dulu yang detraining intensif sampai paham A to Z nya produk bapak. Cari orangnya yang pintar otaknya, pintar bicara dan baik penampilannya serta bersedia bekerja di luar kota. Nanti setiap orang ini harus mengajarkan kepada orang local karyawan di outlet agar juga punya kemampuan presentasi yang standard.

Itu kalau memang kondisi perusahaan bapak persis seperti yang saya sampaikan. Tapi kalau usaha bapak saat ini sudah profitable dan perusahaan yakin sudah punya team marketing sales yang kuat dan siap ditempatkan sampai ke luar kota, maka selanjutnya bapak harus membuat system control dan marketing plan standard , membuat proposal franchise dan merancang perjanjian franchise.

Demikian Pak Setiawan saran dari saya. Memang baru sebatas pondasi persiapan. Tapi kalau pondasi bapak sudah kuat, pasti bangunan diatasnya seterusnya lebih mudah dan bapak bisa lebih cepat membangun bisnis konsultan software IT bapak.

SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi )  

MENERAPKAN LANGKAH POAC DALAM IMPLEMENTASI STRATEGI

TANYA :"Menerapkan langkah POAC dalam implementasi strategi"

Yth Pak Mirza

Saya adalah Manager di usaha bidang pendidikan. Dalam menerapkan strategi baru, rasanya di dalam konsep kertas saya sudah buat semaksimal mungkin. Tapi setiap dilaksanakan di lapangan selalu tidak ada hasilnya. Apa yang salah dari hal ini ya pak? Mohon pencerahan.

Chairon - Cinere

Jawab:

Pak Chaeron yang tetap semangat

POAC ( Planning – Organizing – Action - Controlling )

Sering disampaikan oleh para pakar management dalam buku buku maupun dalam seminar marketing. Panduan jurus singkat bagi para pelaku bisnis/ usaha untuk menjalankan strategi aplikasi di lapangan. Mari kita coba bahas secara sederhana setiap step-nya.

PLANNING : inilah yang dikerjakan Pak Chairon selama ini, konsep di atas kertas. Perhatikan: dalam membuat konsep harus diperhatikan apa yang dibutuhkan untuk implementasi di lapangan. Sumber Dayanya harus menunjang. Cukupkah dengan ketersediaan saat ini atau jika perlu ditambah, sampai seberapa jauh / besar kemampuan untuk ditingkatkannya. Sumber Daya Uang, Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Pendukung : Peralatan, kebijakan. Termasuk juga ketersediaan waktu apakah memungkinkan sampai target yang ingin dicapai terealisasi. Jika kita membuat konsep diluar kemampuan yang kita miliki itu sama saja dengan membuat proposal yang harus menunggu kapan proposal itu bisa disetujui baru bisa dilaksanakan. Padahal strategi aplikasi sifatnya lebih urgent dan butuh implementasi segera karena bisa dilaksanakan di level Pak Chairon sebagai manager, tidak perlu pengajuan dan persetujuan sampai level Direktur atau owner. Langkah pertama dalam pembuatan planning adalah harus diperiksa dulu sumber dayanya yang kita punya. Contoh yang paling urgent : Manusianya, apakah skillnya cukup? Communication skill misalnya. Dalam strategi Anda menuntut seseorang mempresentasikan penawaran program dengan sedemikian menariknya sehingga orang tertarik dan memutuskan untuk membeli. Tapi setelah Anda cek lagi sumber daya manusia yang Anda punya sepertinya ada kendala. Jangankan untuk presentasi, bahkan dalam bicara sehari haripun karyawan ini tampaknya sangat pemalu. Bukannya tidak bisa di-training untuk meningkatkan skill, tapi hasil dari trainng tentu saja membutuhkan waktu lagi sedangkan strategi Anda harus segera dijalankan.  Sekurang kurangnya modal sumber daya yang sebuah perusahaan atau unit terkecilnya department/ bagian  harus punya ialah Manusia ( baca : karyawan ). Maka sejak dari awal merekrut karyawan untuk perusahaan perlu ditekankan pentingnya menerapkan standard minimal persyaratan karyawan yang bisa bergabung dengan organisasi kita dan cocok dengan kriteria bisnis kita agar kumpulan kumpulan manusia ini bisa berfungsi sebagai team work dan berdaya guna sebagai mesin produksi perusahaan, bukan malah jadi “terlalu banyak rem” di perusahaan Anda karena justru para karyawannya sendiri yang selalu me”ngerem” laju perusahaan yang sebetulnya ingin berlari. Jika perusahaan Anda tidak punya kumpulan karyawan yang kondusif dan produktif, maka jangan harap strategi aplikasi yang Anda buat akan pernah berjalan sesuai harapan. 

Jika sejak perencanaan dirasakan butuh tambahan budget mendesak, maka sampaikan ke pimpinan atau owner bahwa, misalnya jika project ini ditambah dengan dana sekian lagi di luar kas perusahaan maka akhirnya akan dapat profit 3 x dari anggaran project.  Dari segi bisnis pasti hal ini menjadi tantangan bagi owner untuk meningkatkan kinerja bisnis dan omzetnya. Jangan sebuah strategi dipaksakan jika budgetnya tidak cukup karena setiap stepnya juga tidak akan berjalan dengan sempurna.

Check catatan diatas adalah untuk para manager yang selama ini merasa implementasi atau target yang dicapai tidak sesuai dengan planning. Jadi sebetulnya belum masuk ke tahap PLANNING itu sendiri.  Planning dalam merancang sebuah strategi harus melihat target dahulu.

Target Sales: Siapa yang ingin dituju, untuk segmen ibu ibu, keluarga atau umum atau mahasiwa, dan lain lain. Dari skala ekonomi social berapa rupiah? Bagaimana life stylenya, trend demandnya dan potensi growthnya. Maka targetnya Omzet bulan depan harus lebih tinggi dari bulan lalu.

Target brand building: untuk memperkenalkan brand agar lebih dikenal? Dibuat event yang seberapa besar, seberapa luas coverage areanya. Targetnya maka bulan depan harus lebih banyak orang tahu tentang usaha/ brand kita dan lebih luas radius awareness sekian km dari bulan lalu.

Target mengatasi masalah: Misalnya mengatasi competitor atau menyiasati kurang strategisnya lokasi outlet. Maka targetnya tentu saja berimbas pada peningkakan omzet dan pelanggan. Paling tidak terlihat suasana outlet jadi lebih ramai dan aktif disbanding bulan lalu.

Maka setiap step yang tersebut dalam planning tersebut harus mengarahkan kepada satu target tersebut. Yang perlu diperhatikan setiap planning terdiri dari beberapa step yang mungkin dikerjakan oleh beberapa PIC ( Person in charge ). Pastikan para PIC tersebut tahu maksud dan tujuan pentingnya melaksanakan step tersebut sesuai petunjuk teknisnya dan sesuai time plannya, agar di ujungnya seluruh step berjalan di satu rel dan tepat waktu. Jangan lupa, orang bisa “bekerja dengan hati” jika dia tahu dan paham dengan jelas maksud dan tujuan dia harus mengerjakan suatu hal, bukan sekedar disuruh lalu kerjakan.

ORGANIZING : Merekrut karyawan yang cocok, produktif dan bisa satu visi misi dengan tujuan perusahaan adalah tahap organizing pertama yang terpenting. Mengorganisasikan person dengan spesifikasi yang tepat pada posisi/ jabatan yang tepat untuk fungsi yang tepat. Ini adalah kunci di setiap suksesnya teamwork. Mengelola manusia dengan spek dan posisi yang tepat sesuai dengan kerangka kerja yang sudah digariskan manager adalah cara menjalankan organisasi project. Termasuk jika ada gesekan atau overlap antar posisi atau malfungsi dari dept terkait yang mengakibatkan konflik internal atau keresahan kerja lain maka harus segera ditangani secara benar dan penyelesaiannya diterima seluruh teamwork. Manager menggunakan kewenangannya untuk mengatur jalannya pekerjaan tiap PIC, bahkan segera mengganti PIC jika di perjalanan dirasakan PIC ybs kurang kompeten. Jangan karena 1 PIC kurang kompeten tapi seluruh strategi yang sedang berjalan terancam berantakan.

ACTION : Rencana tinggal rencana di atas kertas jika tanpa Action. Setelah semua kerangka kerja, PIC, maksud dan tujuan strategi/ pekerjaan ini jelas dan disepakati seluruh anggota teamwork, maka saatnya DILAKSANAKAN / ACTION. Yang dibutuhkan dalam Action ini adalah time schedule. Disana dipaparan secara jelas PIC bertugas untuk pekerjaan apa, time limitnya sampai berapa lama untuk selanjutnya disambung lagi oleh PIC lainnya, dan seterusnya. Alur kerjanya harus mulai dari dept mana , disupport oleh dept mana, diarahkan ke siapa. Pastikan tidak ada jeda antar proses yang mengakibatkan hilangnya momentum kerja.   

CONTROLLING : Kontrol ada dibawah kewenangan Manager yang menerima report, memberikan pengarahan harian, mingguan, peninjauan berkala langsung lapangan, memberi penilaian ataupun koreksi kepada seluruh anggota teamwork maka seluruh progress pekerjaan harus dianalisa per termijn. Kontrol selama project berjalan dibutuhkan untuk mengarahkan apakah betul betul semua kerja PIC dan dept terarah ke satu tujuan, mengawasi apakah teamwork bekerja sesuai kerangka kerja, apakah ada kendala lapangan, apakah masih masuk rencana budget. Dengan menganalisa progress secara berkala maka jika dibutuhkan action alternative, action pendamping, action flexible atau action percepatan maka sepenuhnya harus ambil action berdasarkan penilaian manager dan disepakati oleh seluruh teamwork. Jika Manager hanya melepas project di awal waktu dan baru dicek lagi pada saat limit waktu habis, maka kemungkinan besar project tsb tidak akan berjalan baik sesuai planning dan hasilnya tidak akan tercapai sesuai target.

Demikian, mudah mudahan bisa dipahami kenapa strategic planning di atas kertas kadang tidak bisa dijalankan sesuai harapan. Jangan menyerah, setiap kesalahan masih bisa diperbaiki dan hasilnya pasti bisa lebih baik lagi.

SEMANGAT SUKSES ( Mirza A. Muthi )