Senin, 01 Oktober 2018

Memulai bisnis kuliner



Ada pertanyaan mengenai memulai bisnis Warung makan /kuliner di unit ruko ukuran 4 x 12 m yang sudah dimiliki. Saya akan coba jelaskan secara mudah untuk pemula. Sangat baik sekali Anda ingin memulai bisnis kuliner, tapi ini bukan bisnis yang mudah dijalankan. Kompetitor Anda ada belasan mungkin puluhan warung kuliner di radius 3 km lokasi warung Anda bahkan di hari sebelum Anda memulai bisnis hari pertama. 

1. Investasi, batasi investasi Anda dan jangan gunakan seluruh dana yang Anda miliki untuk investasi di bisnis ini.
Anda katakan warung ini hanya sekelas UKM, yang saya persepsikan berlokasi di ruko hanya 1 lantai mungkin terdiri dari minimal 7 meja kapasitas 4 orang per meja. Jadi sekitar maksimal 30 tamu jika di jam sibuk. Untuk awal sebaiknya saya sarankan mulai dulu di lantai dasar, fokus belajar setiap harinya dan tambah pelanggan warung kuliner  Anda. Jika semakin Anda paham dan mulai mendalami permasalahan dan solusi di bisnis ini, baru mulai pertimbangkan untuk ekspansi ke lantai 2 dst menurut keberanian dan ke-percaya diri-an Anda. Dapur dan ruang makan ada di lantai yang sama, tinggal penataan layoutnya saja yang dibuat efesien dan menarik sehingga tamu tetap nyaman makan di warung Anda. Dengan memulai investasi hanya di 1 lantai tentu akan menghemat investasi awal Anda.

2. Penataan Area, harus membuat nyaman tamu dan kerja operasional tetap efektif.
Dalam area yang terbatas, dapur jika memungkinkan bisa ditempatkan di bagian depan. Jika ada ayam yang dibakar maka asapnya tidak akan memenuhi indoor ruko. Juga kegiatan masak dari area dapur yang bersih dan tertata memberikan kesan "mengundang" tamu datang. Bagus jika wangi lezat makanan dari pengolahan menu di dapur warung bisa meruap ke lingkungan sekitar, tentu saja bisa menambah daya tarik orang sekitar datang ke warung Anda. Bayangkan jika Anda sebagai tamu yang datang ke warung Anda, dari mulai tampak depan, lalu masuk ke pintu utama, duduk di meja yang ada, mulai order menu, selama menunggu menu datang apa yang bisa dilihat disekeliling. Berapa lama Anda bisa sabar menu datang diantar? Apakah lebih baik jika minuman dulu yang diantarkan sementara menunggu menu utama datang. Lalu dimana posisi wastafel untuk cuci tangan, jangan lupa sediakan sabun cair agar tetap hygiene. 

3. Pasang fasilitas yang tepat, agar yang datang adalah pelanggan yang tepat.
Jika Anda merencanakan tamu bisa menambah order menunya mungkin Anda bisa membuat ruang makan lebih nyaman dengan kursi yang ada lapisan busa dan interior yang lebih dipercantik. Sambil menunggu menu dimasak, mungkin ada yang bisa dilihat, mungkin bisa TV. Mungkin ada yang bisa didengar, mungkin ada suara radio atau musik mengalun pelan, apakah mungkin lebih nyaman pakai AC atau sudah cukup nyaman dengan pakai kipas angin, lalu makanan datang dan mulai disantap. Tentu saja dengan fasilitas AC maka ada larangan tamu merokok. Bisa disiapkan area smoking di outdoor dengan set meja outdoor. Toilet juga sangat penting, tidak perlu mewah, tapi harus bersih dan terang. Dengan peningkatan standard fasilitas ini maka Anda bisa meng-up grade harga per porsi lebih sedikit diatas kompetitor rata rata kelas warungan kuliner. Maka dari setiap grup tamu yang datang bisa berharap duduk lebih lama dan memesan lebih banyak menu. Misal lauk aneka ayam  sebagai menu utama, lalu juss buah sebagai minumannya, ditambah dengan snack lain sebagai penutup. Jangan lupa jika waktu yang dialokasikan per tamu lebih panjang, mungkin saja mereka membutuhkan mushola yang cukup nyaman dan harus bersih. Kalau hanya kelas warung atau resto tidak perlulah fasilitas wifi. Jangan sampai pengunjung berlama lama melakukan aktifitas internet di warung Anda tapi antrian tamu terlihat panjang. Buat perputaran tamu warung Anda efektif, tidak terlalu lama tapi tamu yang datang untuk makan minum juga sudah cukup nyaman dan puas.

4. SDM yang efektif , dan produktif. Jika urusan fisik bangunan dan fasilitas sudah didefinisikan dengan jelas, maka jangan lupa bahwa SDM adalah aspek terpenting sebagai faktor penggerak mesin bisnis. Yang paling mudah jika Anda bukan ahli dibidang kuliner adalah mempekerjakan koki atau pengelola yang sudah cukup lama berpengalaman di bidang ini. Jika Anda tidak sanggup menggaji dengan standardnya, tawarkan bagi hasil berupa prosentase dari omzet gross atau nett profit yang diperoleh bisnis. Tentu saja maksudnya agar orang ahli ini merasa memiliki bisnis ini juga dan akan betul betul membuat bisnis bersama ini ke arah bisnis yang jangka panjang dan profitable. Posisi orang ahli ini bisa jadi adalah koki, karena misal menu ayam yang lezat butuh keahlian seorang koki terlatih untuk meracik resep lezat yang teruji dan pengelola yang bisa mengatur pola kerja karyawan, menjaga standard mutu makanan dan menjaga mutu layanan dan memasarkan produk ini ke target pasar. SDM inilah yang akan membawa "pengalaman" bagi tamu tamu Anda. Apakah mereka akan menerima pengalaman yang baik, nyaman, terpuaskan, menyenangkan selama ada di warung Anda? atau justru sebaliknya, merasa buang buang waktu, buang buang uang bahkan menyesal telah datang ke warung Anda.

5. Menu, ini adalah mesin uang  utama dalam bisnis kuliner. Makanan yang bercita rasa lezat, ditampilkan dengan estetika akan sangat memberikan kesan mendalam kepada tamu, apakah dia akan bersedia datang lagi atau cukup hanya sekali itu saja datang mencoba. Atau bahkan begitu terasa lezatnya sehingga tamu tidak sabar untuk kembali atau rela antri demi menikmati lagi menu dari warung ayam Anda. Tergantung bagaimana koki Anda mengolah dan menyajikannya apakah lebih baik dan lebih lezat dibanding rasa menu ayam di resto atau warung lain sekitar. Perlu dipikirkan apakah Anda akan tawarkan menu khusus yang memang tidak banyak pilihan seperti resto ayam geprek atau banyak varian pilihan seperti warteg atau foodcourt. Anda bisa lihat mana kemungkinan bersaing paling kuat di radius 5 km sekitar outlet Anda. Mana menu yang paling bisa diakomodir baik dari segi kemudahan memasak yang masih oleh peralatan dapur Anda, atau dari cost bahan baku yang masih profitable.

Sementara cukup seperti diatas dan dengan langkah langkah diatas berarti outlet warung kuliner Anda sudah bisa beroperasi. Jawaban saya di pertanyaan ini lebih bertujuan agar Anda mulai saja dulu dengan rencana Anda. Banyak pemula tidak pernah menjadi pengusaha karena takut memulai. Mulai saja duku dengan memperhatikan hal hal yang saya sudah uraikan diatas, lalu belajar dan teruslah berkembang dan kreatif. Pasti Anda bisa. Mudah mudahan dengan rasa makanan yang lezat, jenis pilihan menu yang tepat dan layanan yang ramah, maka outlet Anda bisa mulai ramai didatangi pelanggan. 

Tentu saja idealnya Anda tidak bisa hanya duduk diam menunggu tamu datang, tapi Anda juga harus lakukan marketing dan promosi untuk awareness merk warung Anda dan mempromosikan menu menu unggulan Anda. Tapi hal ini akan butuh pembahasan khusus lagi. Mudah mudahan cukup dengan melakukan langkah langkah diatas, maka warung kuliner Anda sudah memiliki tamu loyal dan royal.


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)

Sabtu, 01 September 2018

CSR YANG TEPAT


Pak Mirza, saya dari PR sebuah perusahaan ritel  consumers good, ingin bertanya kira kira apa program CSR yang tepat bagi perusahaan? 

Corporate Social Responsibility yang baik dan berdampak ganda bagi perusahaan bisa ditempatkan sebagai partisipasi perusahaan bagi program yang memberi  manfaat jangka panjang yang dirasakan bisa masyarakat luas atau segmen masyarakat tertentu yang memang jadi target program CSR. Jadi bukan semata mata hanya kasih amplop bantuan dana tunai ke kelompok orang tertentu, misal yayasan anak asuh yatim atau panti jompo tertentu, lalu CSR sudah selesai dilakukan. Hal seperti itu juga sudah bagus, hanya jika perusahaan bisa melakukan CSR yang bisa lebih berdampak lagi, kenapa tidak?

Untuk perusahaan ritel consumer goods seperti produk produk yang dipakai atau dikonsumsi sehari hari, bentuk CSR bisa berupa bantuan tunai atau justru menggunakan barter produk yang dibeli konsumen dengan donasi sekian persen dari harga jual produk. Misalnya 3% dari setiap kaleng susu yang terjual akan didonasikan untuk pembangunan rumah panti asuhan anak yatim, atau jenis kontribusi seperti itu untuk jenis produk lainnya. Jika program ini bisa diaware ke konsumen dengan baik, diberi latar belakang cerita hikmah dibelakangnya, manfaat yang akan diterima anak anak yatim dan pahala dibelakangnya, di marcomm dengan cerdas dan menarik, maka pembeli bisa benar benar diarahkan untuk akhirnya memiliki motivasi membeli produk tsb karena untuk ikut berpartisipasi dalam program amal tsb, bahkan bisa jadi membeli susu bukan karena memang butuh susunya untuk dikonsumsi. Karena pada dasarnya setiap manusia mencari jalan untuk berbuat baik dan bisa ikut bermanfaat bagi manusia lain.

Kadang kadang CSR tidak harus selalu terkait langsung dengan jenis produk yang diproduksi dan dijual. Bisa saja semacam pelayanan kepentingan publik yang sangat dibutuhkan karena sebelumnya kurang terpenuhi secara baik. Misalnya program guru sukarela. Perusahaan menginisiasi dan membiayai dalam membentuk komunitas anak muda pengajar sukarela untuk anak anak tidak mampu sekolah. Silakan branding nama perusahaan Anda misal di dinding sekolah sosial ini atau diliput oleh media massa  sehingga masyarakat tahu siapa yang menyelenggarakan niat baik ini. Sekali lagi, kunci keberhasilan CSR yang berdampak pada citra produk bahkan peningkatan sales karena ada rasa simpati adalah di marcomm dan bagaimana CSR tsb dikemas. Jika masyarakat cukup mendapat pesan yang kuat dan setuju bahwa program CSR ini akan banyak memberi manfaat, maka masyarakat tidak akan merasa ragu untuk ikut serta mendukung melalui program CSR perusahaan Anda. Nama baik dapat, citra makin baik plus sales makin meningkat, masih ditambah mudah mudahan seluruh Direksi dan jajaran perusahaan mendapatkan pahala yang banyak.
SEMANGAT SUKSES (Mirza A.Muthi)

Rabu, 01 Agustus 2018

Seberapa Perlu Lakukan Analisa Kompetitor Bagi StartUp Business?



Ada pertanyaan apakah pengusaha startup wajib mengambil perhatian khusus kepada kompetitor. Mengingat saat ini pada saat ingin memulai berusaha apapun, pasti memang sudah ada kompetitornya.

Jawab:
Kita bicara bisnis yang umum. Tujuannya buat bisnis Anda makin simple tapi sangat fokus. Kadang survey dan analisa kompetitor memang tergantung dari kapasitas Anda sebagai pengusaha atau mungkin pelaku di bidang usaha tsb. Mungkin Anda belum menjadi pelaku/pemilik usahanya, tapi Anda sudah lama jadi pelaku usaha di bidang tsb. Misal sebagai karyawan yang lama berusaha di bidang bisnis tsb. Anda sudah berpengalaman sebagai pengusaha atau sebagai pelaku di bidang tsb, atau justru baru start up/ pemula sekali di bisnis yang akan Anda terjuni. Experience/pengalaman Anda akan sangat membedakan cara respond bisnis Anda jika menghadapi masalah usaha dibanding pengusaha baru. Experience ini tentu termasuk jatuh bangun, gagal sukses Anda dan segenap pengalaman Anda mengelola seluruh unsur bisnis yang dimaksud: konsep dan planning, SDM, strategi marketing dan branding, tahapan dan jangka waktu  penetrasi pasar, produk demand supply, membangun relasi dengan pelanggan, perubahan trend pasar termasuk analisa persaingan bisnis dan respond jangka pendek dan jangka panjang. Semakin Anda punya pengalaman panjang dan berliku, semakin Anda sudah memiliki "pola persaingan" yang sudah Anda ketahui dan tidak perlu lagi terlalu fokus pada hal tsb. Anda tinggal fokus pada hal hal bisnis lain yang lebih mengarah kepada exploring potensi yang Anda miliki baik dari produk, benefit, after sales service, membangun jaringan dan relasi bisnis penting, dan banyak hal lain. Karena memang persaingan sejatinya sudah ada sebelum Anda memulai bisnis tsb. Tapi karena Anda sudah menjalaninya lama sebelumnya, maka pasti Anda sudah mempersiapkan bisnis Anda ini dengan memperhitungkan unsur konpetitor tsb tanpa harus melakukan riset kompetitor yang terlalu intens.

Jika Anda adalah pengusaha startup yang baru mulai, maka analisa kompetitor sangat penting untuk jadi dasar pemikiran konsep bisnis Anda. Anda harus paham betul bagaimana "cara umumnya" perusahaan kompetitor mendeliver pesan, kemasan  dan produk serta image kepada para pelanggan. Harus dianalisa bagaimana cara yang lebih bisa diterima dan direspond pasar secara baik. Juga dipelajari produk apa yang paling tidak laku di pasar dan apa yang menyebabkannya. Maka secara konsep bisnis dan produk kita harus mengadopsi dan meng-explore cara cara produk yang berhasil plus jangan melakukan cara cara yang mendekatkan produk pada kegagalan. 

Lakukan SWOT Analysis untuk breakdown semua data data yang didapat dan menggali potensi yang dimiliki oleh usaha Anda. Maksimalkan apa yang Anda punya untuk mengambil manfaat semaksimal mungkin dari kesempatan menjual. Memang mungkin tidak mungkin Anda menjadi perusahaan menjual yang sangat super karena keterbatasan Anda. Misal tidak mungkin Anda membuat restorant atau cafe yang meng-okupansi area yang sangat luas, di daerah sangat strategis, dengan gedung berAC yang interiornya dibuat sangat nyaman, full fasilitas, team kerja yang sangat berpengalaman dengan budget promosi sangat besar. Tidak semua pengusaha bisa memiliki kondisi ideal seperti diatas pada saat startup. Bahkan lebih banyak pengusaha yang memulai usaha dengan banyak keterbatasan terutama dari segi permodalan. Tapi jangan hal tsb membuat kecil hati dan Anda urung untuk jadi pengusaha. Kuncinya adalah Anda harus jeli mengambil celah pasar, mengexplorenya secata innovatif dan kreatif lalu menjaga setiap pencapaian yang sudah Anda dapat baik kualitas produk, pelayanan dan hubungan Anda dengan pelanggan.

Jadi inti dari analisa kompetitor justru agar semua sumber daya yang Anda punya bisa dimanfaatkan secara efektif, efesien dan fokus pada tujuan yang lebih pasti. Tidak terlalu meluas melebar tapi fokus pada tujuan segmen pasar yang paling masuk akal dengan produk dan pelayanan yang tepat dibutuhkan pasar yang dituju, sesuai dengan kekuatan sumber daya uang, SDM, lokasi dan bahkan pengetahuan bisnis juga relasi yang Anda miliki saat Anda memulai bisnis tsb. Tinggal sedalam dan sedetil apa data data kompetitor yang Anda butuhkan agar Anda bisa merasa nyaman dan PeDe saat memulai startup business Anda.
SEMANGAT SUKSES (Mirza A.Muthi)

Minggu, 01 Juli 2018

Merubah Konsep Menuju Mall Millenial



Mahasiswa bertanya mengenai situasi mall saat ini yang makin lama makin sepi dan saat ini kaum millenial makin jarang yang masuk mall. 
Pertanyaannya, bagaimana agar Mall saat ini bisa tetap menarik buat generasi millenial untuk datang? Apakah bisa merubah konsep mall yang ada saat ini ke arah mall yang milenial oriented?

Mall Service saat ini dibagi dalam beberapa grade. Mulai dari grade A sampai C dan plaza. Biasanya yang disebut mall memiliki persyaratan luasan area bisnis efektif minimal, area public dan traffic pengunjung mall, sekian lot parkiran baik indoor maupun outdoor. Beberapa mall juga dilengkapi area hiburan outdoor seperti waterboom dan kolam renang. Pasti harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti mushola, bank, fitnes. Beberapa mall besar terkoneksi dengan apartment atau perkantoran di lantai atasnya, bahkan ada yang langsung terhubung dengan sarana transportasi public seperti busway dan kereta listrik. Bisa juga thematic peruntukannya ada yang sangat spesific, misal mall fashion atau mall electronic/IT, atau hanya food market mall, dll. Bisa juga jika gedung mall cukup luas dan terdiri dari beberapa lantai maka zoning spesific ini dibagi bagi per lantai. Ada lantai fashion, lantai electronic IT dll, lantai kuliner/fnb dan biasanya di top floor ada zona entertainment. Jadi rasanya tidak ada rumusan baku mengenai bagaimana harusnya performance sebuah mall. Tergantung bagaimana perencanaan dari owner menyangkut luasan area tersedia, konsep bisnis dari  developer dan apa tujuan dari didirikannya mall tsb di kawasan tsb. Stand alone , terintegrasi dengan bangunan diatasnya atau terkoneksi dengan fungsi kawasan.

Saat ini investasi di Mall sangat besar sekali, maka konsep Mall harus sangat direncanakan dengan tepat dan bahkan developmentnya harus sustainable untuk menjangkau berbagai perubahan trend segmen pasar. Tapi perilaku konsumen juga sedang berubah. Banyak Mall mulai sepi pengunjung. Gen milenial lebih ramai kumpul di cafe cafe gaul, komunitas hobby dan belanja via online.  Banyak yang mulai menghindari mall untuk tempat kongkow. Terutama mall yang banyak mengusung tenant luxurious brand, gaya hidup kelas tinggi, sudah tidak ramai lagi pengunjungnya. Masyarakat kebanyakan mulai lebih menghargai experience life style dibanding high end life style. Ini mau tidak mau juga mempengaruhi motivasi orang berkunjung ke mall.

Untuk merencanakan mall segmen milenial, kadang tidak perlu mall yang sangat besar dan luas, tapi cukup plaza atau ukuran menengah tapi dipenuhi dengan berbagai fasilitas dan fitur yang support dan tepat demand juga trend untuk men-target segmen milenial datang berkunjung. Persoalannya bagi pebisnis, apakah segmen milenial ini benar bisa jadi penghasil omzet yang profitable bagi bisnis mall? Mengingat segmen milenial kebanyakan masih belum menghasilkan pendapatan yang sudah mapan dan stabil, yang memungkinkan mereka membelanjakan sejumlah uang besar secara kontinu yang selalu diinginkan oleh pengusaha mall dan para tenant yang invest di mall tsb.

Karena bagi pengusaha, mau direncanakan bagaimanapun tetap tujuan akhirnya adalah pengembalian investasi yang cepat agar cepat mendapatkan profit di periode kelola berikutnya. Sedangkan generasi milenial saat ini mengalami perubahan trend perilaku dibanding generasi sebelumnya. Saat ini mereka lebih senang mencari experience, pengalaman hidup bersama kawan kawan, travelling juga wisata aneka kuliner, dibanding membeli barang barang konsumsi semacam fashion branded. Yang paling sering dibeli justru gadget, travelling, menu menu baru yang gaul dan terjangkau dan item produk golongan hobby dan teknologi.

Merubah mall yang sudah ada dengan konsep baru untuk mengantisipasi berubahnya demand pasar dan trend perilaku nge-mall masyarakat bukan hal yang mudah. Berubah konsep, maka bisa jadi harus merubah layout, zoning, fasilitas dominan dan support, bahkan prioritas parkiran dan jalur akses kendaraan. Butuh milyaran juga untuk merubah konsep dan terapannya secara fisik, belum dilanjutkan dengan merubah brand extention, re-branding, cara komunikasi dan bahkan merubah tenat tenant yang sudah occupied.

Generasi milenial senang datang bergrup grup. Mungkin 1 grup minimum 5-10 orang sekali jalan bersama. Perilaku sedikit sedikit selfie, apapa apa harus masuk sosmed, sangat menguntungkan bagi produsen atau sebuah usaha untuk melibatkan konsumen untuk mem-viralkan produk/jasanya melalui gadget dan jaringan sosmed pertemanannya. Hal hal tsb yang akan didapat sebagai benefit extra adalah traffic dan volume pengunjung, jika bukan dari volume transaksi. Maka yang bisa relevan dengan volume pengunjung, misalnya mall jenis ini akan jadi spot yang sempurna untuk pemasangan iklan produk atau pameran produk segmen generasi milenial. Ada spot spot di mall yang dibuat oleh produsen atau sebuah usaha agar dibuat instagramable agar layak foto. Pihak produsen juga bisa nego dengan pengelola mall untuk menyewa space display  iklan komersial di area mall. Pihak mall harus menata seluruh area dinding, tiang kolom, escalator, lift, area mall, toilet, parkiran, jika mungkin ceiling. Intinya setiap inci dari mall harus begitu menarik dan bisa memancing generasi milenial datang menikmati suasana, selfie dan mengaktualisasikan dirinya inline dengan apa yang sudah disiapkan di mall. Bisa saja pemasukan mall gen milenial ini didapat dari tiket masuk mall yang sudah seperti wahana entertainment ini. Tidak usah tiket harga mahal, tapi murah saja karena juga akan dikali unit tiket terjual dan frekuensi per harinya kepada pengunjung. Pemasukan mall lain dari iklan iklan yang dipasang oleh banyak produsen atau brand usaha dalam bentuk paket dekorasi interior yang disewakan per spot secara lebih artistik dan instagramable. Manajemen Mall juga tidak perlu mengalokasikan budget renovasi terlalu besar lagi karena biaya ditanggung oleh klien/ mitra vendor pemasang iklan.

Secara praktis dan singkat saja, hal hal yang harus dirubah dari sebuah ( misalnya ) mall grade A atau B ke mall spesific segmen generasi milenia, mungkin bisa dilakukan sbb: 
1. Harus down-grade dari all aspect /classnya. Kesan beda bisa  mulai dari nuansa/image design interiornya. Lebih berwarna, mungkin menggunakan mural 3D, lebih banyak lampu warna, backsound musicnya beda
2. Pangsa anak muda 75% pengendara motor, sediakan area parkirnya yang lebih luas, nyaman, tidak terpanggang panas matahari atau kehujanan dan lampu terang sampai malam.
3. Konsep food entertainment: foodcourt dengan set kursi meja makan bersama dan dikelilingi konter konter jual dan masak pertunjukan aneka menu yang gaul dan familiar di kalangan anak muda
4. Harga sewa konter lantai gen milenial ini harus lebih murah daripada di lantai  bawahnya yang masih berkonsep existing. Atau luasan konter sewanya jauh lebih kecil karena hanya area produksi atau area display saja, jadi tidak dibebankan tenant ke harga menu atau produk. Jadi gen milenial ini bisa makan di mall dengan pilihan menu ringan jauh lebih banyak, lebih lengkap tapi juga dengan harga yang lebih terjangkau harga beli per porsi menunya
5. Ada panggung performance di beberapa spot. Mall gen milenial haris aktif dengan acara anak muda. Semacam festival music atau bazar yang ikut melibatkan penontonnya sendiri. Acara panggungnya khas anak muda: live music, accoustic performace, standup comedy, layar tancap, bedah buku, gathering komunitas hobby, seminar, dll. Jika perlu siapakan zona khusus gratis sewa yang bisa digunakan grup/kelompok/sekolah/komunitas secara kalender event.
6. Perbanyak spot spot foto selfie yang instagramable agar lantai lantai mall yang dirubah konsepnya cepat diaware via medsos
7. Mushola tersedia di setiap  lantai dibuat di area lebih luas. Bagusnya generasi milenial saat ini lebih gaul tapi sekaligus lebih relegius.
8. Ada zona display case utk produk produk offline, hanya konter kecil 150 x 70 pajangan produk sample dalam kaca transparant. Dengan informasi atau kartu nama kontak langsung. Diganti ganti produknya per periode. Jika perlu dilengkapi dengan monitor touchscreen agar konsumen bisa meng-explore sendiri indormasi via IT yang disediakan di tiap unit display showcase. Display showcase ini berderet di sepanjang zona ini. Konter konter display / showcase display produk yang hanya berukuran kecil hanya untuk mendisplay produk non sales, harus lebih dominan dibanding konter sales yang berukuran lebih luas. Ini untuk produk produk yang dijual via internet/ on-line. Jadi  konter display showcasenya tidak usah pake  penjaga toko/wiraniaga. Cuma display saja dan keterangan tertulis peminat bisa klik IG, website atau facebook kontak WA ke mana atau bisa dicek di channel marketplace apa. Konter konter showcase displaynya di layout berjajar di zona khusus spt hall exhibition.  Bisa ada minimal 100 unit konter showcase display berbeda produk. Jadi Mall generasi milenial ini akan jadi pusat display produk pasar semua produk online di Indonesia
9. Ada lantai di paling atas, bersamaan dengan zona entertainment, hanya menjual produk dan accesories khas anak muda. Brand local dan populer karena price affordable. Jika perlu produk produk dari UMKM  Tidak ada produk produk  brand international
10. Jika perlu setiap escalator ke setiap lantai sdh mulai ada informasi khusus dgn brand thematic setiap lantai. Pembedaan brand tiap lantai ini akan membedakan dengan jelas zoning peruntukan atau thematic, diikuti oleh perubahan color, konsep dan karakter all interior mall dan tenant
11. Nuansa interior dibuat dari komponen artistic painting mural,  potongan kaca kaca warna kompilasi, efek lampu laser kombinasi warna, lebih banyak ornamen/accesories gantung juga artificial plant & flowers.
12. Untuk brand awareness  yang baru ini, PR mall bisa  menggunakan brand ambassador idola idol anak muda untuk acara press con launching film anak muda, album music band/penyanyi muda, gathering dengan tokoh tokoh muda panutan/teladan, mengundang kampus kampus se Jakarta secara bergiliran (dijemput bus khusus) agar segera diaware secepat mungkin oleh setiap anak muda yang hadir
13. Kalau perlu securitynya juga beda seragamnya dari security tiap lantai. Lebih bermotif seragamnya tidak terkesan seram.  Pakai seragam seperti polisi hutan dengan sepatu gunung lebih kekinian. Kalau bisa securitynya pake inline roller skate/sepatu roda/semacamnya jadi lebih gaul dan attraktif
14. Setelah semua infra structure, dekorasi interior, fasilitas, image dan attribute, baru dipromo besar besaran perubahan karakter baik secara keseluruhan atau baru hanya baru per beberapa lantai saja dan brand baru  lewat media massa paper, TV, radio dan online.

Ini namanya strategi rebranding untuk mengambil segmen target yang baru (usia lebih muda) dan extended target market di lantai lantai yamg di re-concept diluar existing target segmen premium yang selama ini sudah dimiliki Mall tsb. 


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)